Arda POV Kuhempas p****t ke atas kursi, lalu kudorong punggung ke belakang. “Hah ….” Sumpah, hari ini sangat melelahkan. Dari pagi sampai sore, baru sekarang aku bisa merasakan kursi empuk ini dan juga ruangan ber udara sesejuk ini. Seharian ini aku berkeliling ke tiga proyek yang jaraknya tidak berdekatan. Bisa dibayangkan seperti apa? Bukan hanya karena terik matahari yang membuat kulitku sampai terasa seperti terbakar, namun juga debu yang tetap menemukan celah untuk menggelitik hidungku, sekalipun aku sudah memakai masker khusus proyek. “Cariin jus jeruk dong, Dit,” pintaku. Kuusap kening yang rasanya masih berkeringat. Kuhembus napas keras. Kancing paling atas kemeja sudah kubuka, tapi, rasanya masih juga gerah. “Dit, dua porsi,” pintaku lagi. Radit yang sudah menarik handel pintu

