Adrian duduk di sofa, tubuhnya santai tapi matanya menatap fokus ke arah Vanila yang baru saja selesai makan. “Gimana bimbingannya sama Doktor Nathan?” tanyanya sambil memainkan sendok di tangannya. Vanila sempat terdiam sebentar sebelum menjawab. “Lancar, cuma banyak catatan revisi.” Adrian mengangguk pelan. “Orangnya baik kan? Nggak bikin kamu tegang atau nggak nyaman?” Pertanyaan itu membuat napas Vanila sedikit berat. Ingatannya langsung melompat ke ruang bimbingan tadi—tatapan Nathan yang terlalu lama, jarak yang terlalu dekat, dan suara rendahnya yang menekan di telinga. Ia cepat-cepat menunduk, pura-pura sibuk membereskan piring. “Baik kok,” jawabnya singkat, suaranya terdengar datar. Adrian memiringkan kepala, menyadari istrinya tidak banyak bicara. “Kamu kelihatan… agak aneh.

