Lampu neon biru dan merah berpendar di sudut kelab. Musik elektronik menghantam telinga, bassnya bergetar sampai ke d**a. Nathan duduk di kursi bar, jemarinya memutar gelas whiskey, tatapannya kosong menembus kerumunan di lantai dansa. Sudah lebih dari satu jam ia di sini. Minuman pertamanya habis, lalu gelas kedua menyusul. Pahit alkohol bercampur rasa frustasi. Bayangan Vanila tak mau hilang dari kepalanya, senyum tipisnya, aroma samar parfumnya, bahkan cara dia menghindar saat Nathan terlalu dekat siang tadi. “Rough night?” Suara seorang perempuan terdengar dari samping. Rambutnya panjang, gaunnya ketat, belahan dadanya dalam. Ia duduk di kursi sebelah Nathan, melirik gelasnya. Nathan tersenyum tipis. “Something like that.” Perempuan itu memiringkan kepala. “Want some company?” Nat

