Pagi di ruang baca terasa terang. Pintu setengah terbuka, udara sejuk masuk dari lorong. Maya sudah duduk di bangku belakang, perangkat audio kampus berada di rak, lampu indikator menyala hijau. Vanila menata laptop, draf bab empat dan lima siap di layar. Nathan datang tepat waktu. Kemeja abu-abu muda, map tipis di tangan. Ia mengangguk pada Maya, lalu duduk berhadapan dengan Vanila, jarak kursi tetap terjaga. “Kita mulai,” ucap Nathan tenang. “Bab empat sudah lebih rapi. Metode dan instrumen konsisten. Kita fokuskan hari ini pada hasil awal dan struktur diskusi.” “Siap,” jawab Vanila. Sesi mengalir cepat. Nathan menunjuk tabel dari seberang meja, tidak mencondongkan badan. “Ringkas kalimat pembuka tabel. Hapus kata yang berulang,” ujar Nathan. “Tambahkan satu catatan etika di akhir ba

