Berliana duduk di kursi kerjanya. Telepon di tangannya baru saja ditutup. Berita dari anak buah Adrian membuat dadanya berdenyut. Adrian telah menghadapi langsung pria yang berani melecehkan Vanila. Padahal ia sudah memperingatkan menantunya agar tidak terburu-buru. Fokuslah pada Vanila, biarkan aku yang membereskan orang itu. Itu yang sudah ia katakan beberapa hari lalu. Namun Adrian rupanya tidak sabar. Ia mungkin tidak sanggup menahan amarah saat membayangkan apa yang dialami Vanila. Berliana tidak bisa sepenuhnya menyalahkan. Sebagai seorang ibu, ia pun merasakan amarah yang sama. Berliana menekan tombol interkom. “Panggil Raka masuk.” Tak lama, pintu terbuka. Seorang pria berjas hitam masuk, berdiri tegak di hadapannya. “Raka, kau sudah dengar apa yang terjadi?” “Sudah, Bu.” Suar

