Uap hangat mulai menebal di udara, membuat dinding marmer berembun tipis. Adrian masih berendam, punggungnya bersandar pada tepi bathub, kedua lengannya terentang di sisi, menciptakan kesan santai namun penuh kendali. Vanila masih berdiri di dekat pintu. Tubuhnya ragu untuk melangkah, tetapi matanya sesekali mencuri pandang. Sorot mata Adrian yang gelap namun tajam membuatnya sulit memutuskan apakah ia harus pergi atau bertahan. “Aku bilang, tetaplah di sini,” suara Adrian terdengar lebih dalam. Kali ini bukan sekadar ajakan, tetapi perintah yang dibungkus nada halus. Vanila menelan ludah, lalu menutup pintu perlahan. Langkahnya mendekat, dan suara pijakan kakinya di lantai marmer terdengar jelas di antara gemericik air. Adrian mengikuti setiap gerakannya dengan tatapan intens. “Kemari

