Nathan membuka pintu apartemennya. Ruangannya rapi, tembok putih berpadu dengan rak buku di sisi kanan. Tas kerjanya ia letakkan di sofa, lalu ia melangkah ke dapur kecil di sudut ruangan. Tangan kirinya menyalakan mesin kopi. Aroma biji arabika yang baru digiling segera memenuhi udara. Nathan mengambil gelas kaca bening, menuang air panas perlahan. Suara mesin kopi berdengung pelan, memberi irama pada pikirannya yang sedang tidak tenang. Ia bersandar di meja dapur. Pandangannya kosong, menatap uap kopi yang naik. Bayangan Vanila kembali muncul. Cara perempuan itu duduk di hadapannya di ruang bimbingan. Kuncir rendah yang rapi. Lengan yang sesekali bergerak untuk membalik halaman. Dan… bentuk tubuh yang terbentuk sempurna di balik pakaian sederhana. Nathan menghela napas. “Astaga,” gum

