Lobi apartemen terasa sepi sore itu. Berliana melangkah masuk dengan mantelnya yang rapi, rambut disanggul sederhana. Ia menatap meja resepsionis, lalu mengangguk pada petugas keamanan yang segera berdiri. “Selamat sore,” ucap Berliana. “Saya Berliana, ibu dari Vanila. Saya ingin naik.” Petugas keamanan menatap layar di hadapannya, lalu mendekat dengan wajah serius. “Selamat sore, Madam. Tadi Mr Adrian meninggalkan pesan. Bila Madam datang, dimohon diberi kabar. Beliau dan Mrs Vanila baru saja pergi ke rumah sakit.” Berliana menegang. “Rumah sakit,” tanyanya cepat. “Kenapa mereka ke rumah sakit?” “Mr Adrian menyebut situasi darurat,” jawab petugas. “Beliau minta kami memberi tahu Madam jika Madam datang.” Wajah Berliana berubah pucat tipis, namun suaranya tetap terkendali. “Baik. Teri

