Si perawat mengganti sabuk monitor di perut Vanila, dokter berdiri di sisi kepala ranjang. Transfusi menetes pelan melalui jalur infus. Oksigen mengalir dari masker tipis yang menutup hidung dan mulut. Garis di layar naik turun, pola kontraksi mulai lebih jinak, tetapi detak bayi masih sesekali membuat lekukan yang membuat semua orang menahan napas. “Posisi miring kiri tetap,” kata dokter tenang. “Kamu boleh minum sedikit lewat sedotan. Kita lanjut pantau lima belas menit. Kalau stabil, kita pertahankan konservatif.” Adrian mengangguk. Ia menyodorkan sedotan ke bibir Vanila. Dua teguk masuk, cukup untuk membasahi tenggorokan. Vanila menatap mata Adrian. Ada takut yang tidak disembunyikan, ada lelah yang tidak bisa dihaluskan. “Aku minta maaf,” ucap Vanila pelan. “Aku ngerasa bikin kamu

