Gemuruh Kecil

1080 Words

Pagi membawa dingin yang tipis. Di kamar hotel kecilnya, Nathan bangun lebih awal, menarik sepatu lari, lalu turun ke trotoar. Ia berlari tanpa musik, hanya mendengar bunyi napas dan langkah. Tiga kilometer pertama terasa berat, dua kilometer berikutnya baru mengalir. Di ujung rute, ia berhenti, menatap langit yang pucat, lalu menutup mata sejenak. Kepala terasa lebih kosong, namun tidak sepenuhnya tenang. Kembali ke kamar, Nathan membuka ponsel, menatap layar kosong kotak tulis. Nama Vanila sempat muncul di benak, lalu hilang. Ia mematikan layar, meletakkan ponsel, dan duduk menatap tembok. Lima menit berlalu. Ia berdiri, mandi air dingin, dan memilih kemeja sederhana. Rencana hari ini hanya satu, menjauh dari kampus, menjauh dari celah. Di kafe dekat hotel, Felix sudah duduk dengan kop

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD