Pagi di aula kampus terasa jernih. Kursi dilapisi kain putih, panggung berlatarkan logo universitas, musik instrumental mengalun rendah. Vanila berdiri di sisi kiri panggung, toga terlipat rapi di lengannya. Adrian berdiri setengah langkah di belakang, merapikan posisi topi dan memastikan rias tipis tetap bersih. “Siap,” tanya Adrian pelan. “Siap,” jawab Vanila, menarik napas panjang. Maya datang membawa map tipis. “Checklist final,” ucapnya. “Nama, nomor, urutan panggilan. Kamu di barisan kedua.” “Terima kasih,” kata Vanila. Berliana masuk dari lorong undangan, senyum hangat mengembang. Ia mencium pipi putrinya singkat. “Kamu terlihat sangat anggun,” ucapnya lembut. “Kalau terasa pegal, duduk. Kamu tidak perlu memaksa apa pun hari ini.” “Aku aman, Ma,” sahut Vanila. “Dokter sudah me

