Malam itu apartemen Adrian terasa berbeda. Bukan hanya karena lampu temaram yang ia biarkan menyala lembut di ruang tamu, tapi juga karena aroma khas bedak bayi yang kini memenuhi udara. Vanila duduk di sofa, rambutnya dibiarkan terurai, wajahnya tampak lelah namun bersinar. Di pangkuannya, bayi kecil mereka terlelap dengan napas pelan dan hangat. “Sayang,” panggil Adrian sambil menurunkan suara, takut membangunkan si kecil. “Kamu capek banget, ya?” Vanila menoleh pelan. Senyum tipisnya mengembang. “Nggak apa-apa. Aku malah nggak bisa berhenti ngeliatin dia. Masih nggak nyangka kita beneran punya bayi.” Adrian ikut duduk di sampingnya, merangkul bahunya. Ia menunduk menatap wajah mungil anak mereka. Kulit putih kemerahan, bibir mungil yang bergerak-gerak seperti masih mengisap, alis tip

