Pagi terasa ringan. Vanila berdiri di dekat jendela, memeluk map persetujuan sidang yang sudah ditandatangani. Udara dingin masuk pelan, matahari menyentuh perutnya yang hangat. Ia menutup mata sejenak, lalu tersenyum. “Akhirnya,” ucapnya lirih. Adrian datang membawa segelas air. “Hari yang bagus,” ujar Adrian. “Kabarin Tiara.” Vanila mengangguk. “Iya, aku kangen dia.” Ia duduk di sofa, merapikan rambut, lalu menekan tombol video call. Layar berdering. Wajah Tiara muncul, lampu kamar di Jakarta agak temaram, tapi senyumnya lebar. “Gila, lo cantik banget,” seru Tiara sambil terkekeh. “Glow-nya juara, Bu Ibu.” Vanila tertawa pelan. “Ti, gue lulus. Revisi minor, udah gue unggah, semua final.” Mata Tiara berbinar. “Gue tau lo pasti bisa. Selamat ya, Van. Gue bangga banget.” “Makasi,” u

