Menyerah Terhadap Godaan Nafsu

1224 Words

Lampu bar redup, musik blues mengalun pelan. Nathan duduk sendirian di ujung counter, memutar gelas bourbon yang tinggal setengah. Es menggesek dinding kaca, bunyinya kecil tapi menusuk. Dari cermin di belakang botol-botol, ia melihat wajahnya sendiri, mata memerah, rahang tegang. “Masih sama?” tanya bartender. “Masih,” ucap Nathan pendek. Pintu berderit. Seorang pria masuk, melepas mantel, lalu mengedarkan pandang. Ia menemukan Nathan, menghampiri, dan duduk di bangku sebelah. Namanya Felix, rekan lama Nathan di fakultas, dosen statistik yang terkenal tenang. Kemejanya kusut rapi, kacamata tipis menggantung di saku. “Lo ngilang dua hari,” ujar Felix, setengah bercanda. “Gue kira kabur ke Boston.” “Ada kerjaan,” jawab Nathan datar. Felix melambaikan tangan pada bartender. “Kopi hitam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD