“Keysha?” Keysha menoleh mendengar namanya dipanggil. “Iya, Mas?” Sejenak Aksa terdiam. Saat ini keduanya memang tengah beristirahat setelah pergulatan panas beberapa menit yang lalu. Keduanya sudah sama-sama mendapat pelepasan, selain itu Aksa memang memberi waktu untuk Keysha beristirahat sejenak. Tangan Aksa terulur, mengusap pipi istrinya. Tubuh pria itu berubah posisi menjadi miring agar bisa menatap wajah Keysha sepenuhnya. “Kamu … marah sama saya?” Kening Keysha mengerut. “Marah? Atas dasar apa aku marah? Emang kamu habis bikin aku kesal? Kayaknya ngga ada. Lalu kenapa kamu bisa mikir kalau aku marah?” “Karna kejadian tadi. Saya ngga kasih kamu aba-aba, ngga kasih kamu kesempatan mikir, bahkan saya ngga tanya kamu udah siap atau belum. Kejadian tadi murni dorongan dari diri say

