“Key, itu pak Aksa.” Keysha mengikuti arah tunjuk Tata. Ya, di depan sana sosok Aksa tengah berjalan. Sepertinya pria itu habis mengambil orderan makanan. Sejenak Keysha menatap sekitar. Astaga, ini sudah pukul tiga sore, tapi kenapa kampusnya masih sangat ramai? Lamunan Keysha buyar saat tubuhnya didorong untuk maju. Keysha yang sudah pasrah akan hari ini mencoba memantapkan hati. Tangannya membawa cokelat dan juga boneka yang sudah dia persiapkan. Seruan semangat dari keempat sahanatnya menjadi iringan menyebalkan di telinga Keysha. “Pak Aksa.” Langkah kaki Aksa terhenti saat Keysha berdiri dihadapannya. “Iya, ada apa, Keysha?” “Umh, Bapak habis dari mana?” Kening pria itu mengerut. Masih dengan kebingungannya dia mengangkat plastik yang ada di tangannya. Bukan barang aneh, tetapi

