Jalanan yang sepi, emosi yang sama-sama tak terkontrol, membuat keributan tak terhindarkan. Baik Aksa ataupun Reyhan, keduanya sama-sama sudah terpancing emosi. Cantika yang melihat itu tentu tak bisa tinggal diam. Wanita itu turun, mencoba melerai keributan yang terciota. Seusaha apapun Cantika, dia tetaplah wanita yang tenaganya tak seberapa. Selain itu dia sedang hamil besar. Cantika menarik baju Reyhan, mencoba menenangkan suaminya. Kalau tahu endingnya akan seperti ini, mungkin Cantika tidak akan mau mengikuti kemauan Reyhan tadi. “Rey, udah, stop!” Cantika kembali melerai, menoba berdiri di tengah-tengah suami dan Aksa. Reyhan menepis tangan Cantika, dia juga tak sengaja mendorong wanita itu sampai akhirnya jatuh terdududuk ke aspal. Cantika meringis kesakitan. Ringisan itu mempu

