“Ini obatnya.” Lamunan Keysha buyar. Kepala gadis itu terangkat, menatap pria yang berdiri dihadapannya. Diambilnya plastic itu, lalu Keysha memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu Keysha berdiri, bersiap untuk pulang. Alih-alih melangkah, Aksa justru menatap lekat wajah Keysha. “Kenapa, Pak?” Tangan Aksa meraih pinggang Keysha, memeluknya posesif. “Rasanya saya pengen cepat-cepat nikahin kamu. Supaya kamu ada di dekat saya terus. Kamu kalau dilepas bebas ngga aman.” Keysha hanya tertawa kecil menanggapi itu. Memang dikira dirinya binatang sampai dibilang lepas bebas. Tubuh yang direngkuh tak membuat Keysha risih. Dia juga tidak berniat menghindar. Yang ada dia turut melingkarkan tangannya di pinggang Aksa. Setibanya diparkiran, Aksa dengan cepat membukkan pintu penumpang untuk Keysha

