“Yang harusnya bertanya itu saya, bukan anda. Mau anda itu sebenarnya apa?” “Urusannya sama lo apa?” “Ya jelas urusannya ada sama saya! Kenapa? Karna saya perduli sama Cantika. Selain itu, kegaduhan yang anda buat, bikin repot rumah tangga saya. Sampai sini anda paham? Atau masih ngga bisa mikir? Yang kena imbasnya paling banyak di sini itu saya asal anda tau.” “Oh, ya? Kalau emang beban, kenapa masih diterusin sok pahlawannya? Tujuan lo emang cari muka sama Cantika, ‘kan? Supaya dibilang hebat, paling bisa diandalkan.” “Untuk apa saya melakukan itu? Untungnya apa buat kehidupan saya?” “Karna kalian masih sama-sama punya rasa.” Reyhan terkekeh menatap remeh Aksa. Aksa menghembuskan napasnya kasar. Masih memiliki rasa katanya? Rasa apa yang dimaksud? Kalau memang dirinya masih memilik

