“Pipi kamu … merah. Apa masih sakit?” Tanpa fikir panjang Keysha menganggukan kepalanya. Walaupun sudah berlalu beberapa menit, rasa perih masih dia rasakan. Akan tetapi Keysha tidak mau berisik, dia memilih merasakan sendiri. Bukan tidak percaya dengan suaminya, hanya saja Keysha masih emosi sama kejadian di rumah tadi. Perlahan tangan Aksa mengusap pipi Keysha, membuat wanita itu meringis. Saat ini keduanya sedang duduk di taman karena Keysha menolak diajak ke kafe atau restoran untuk makan. Melihat istrinya masih diam, Aksa menghembuskan napasnya. Demi apapun dia tidak menyangka kalau akan ada kejadian seperti ini. Aksa juga tidak menyangka kalau istrinya akan terpancing. Ya walaupun sejak di hotel wanita itu bilang perasaannya tidak enak. “Aku ngga ngerti. Benar deh.” Setelah sekian

