“Marco.” Suara Lucas terdengar datar tapi tegas, menusuk keheningan setelah keributan di toilet. “Minta rekaman CCTV. Aku mau semua sudut restoran, terutama dekat toilet.” Marco mengangguk cepat, memberi kode lewat radio pada anak buahnya. “Baik, Tuan.” Allysa masih duduk di kursi empuk, wajah pucat, matanya kosong menatap lantai marmer. Tangannya sedikit bergetar, meski ia berusaha menutupinya dengan menggenggam erat tas kecil di pangkuan. Lucas meliriknya sekilas, tatapan dingin yang sulit ditebak. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menyalakan rokok. Namun kali ini dibiarkan mati di ujung jarinya, tak tersentuh bibir. Beberapa menit kemudian, Marco kembali dengan flashdisk kecil di tangannya. “Untung ada CCTV, Tuan. Kamera di dekat wastafel menangkap semuanya.” Lucas meraih benda itu t

