Udara siang di dermaga Istanbul kian bergeser menuju sore. Cahaya matahari jatuh di permukaan Laut Marmara, memantulkan kilau keemasan yang menyilaukan. Dari teras luar restoran megah bergaya Ottoman, panorama laut tampak jelas, dengan kapal-kapal berlayar masuk dan keluar dermaga. Di sanalah Lucas duduk, rokok menyala di jari, bersama beberapa pria berjas mahal. Percakapan mereka berlangsung pelan tapi penuh tekanan—bahasa Turki dan Italia bercampur, menyelipkan kata-kata tentang kontrak senjata dan alur distribusi barang gelap. Lucas tidak menoleh sedikit pun ke arah dalam. Aura dinginnya sudah cukup membuat semua orang di sekitarnya tunduk. Sesekali, ia mengetuk ujung rokok di asbak kristal, sementara Marco berdiri tak jauh di dalam restoran, mengawasi Allysa yang duduk sendiri di mej

