Tanpa kata-kata, Lucas mengambil pisau roti yang tertata rapi di troli. Kilauan baja memantul terkena cahaya matahari. Sekejap kemudian, pisau itu sudah menempel di leher Silla. Allysa menjerit tertahan. “Tuan Lucas! Jangan—!” Silla terisak, tubuhnya kaku, matanya memejam. Pisau itu menekan kulit lehernya, meski belum melukai. Lucas mendekatkan wajahnya ke telinga Silla, namun matanya tetap menatap lurus pada Allysa. “Lucu sekali, ya. Kau pikir aku tidak tahu siapa yang membantumu kabur kemarin?” Suaranya rendah tapi menggelegar, penuh ancaman. Allysa terpaku, darahnya seakan berhenti mengalir. “Bukan dia … jangan salahkan dia ….” Suaranya bergetar, penuh panik. Lucas menyeringai tipis. “Oh, jadi memang benar. Aku tidak salah menebak.” Ia menekan pisau sedikit lebih dalam, membuat Si

