Lucas mulai mengenakan kemeja putih dengan gerakan tenang, seakan pertunjukan kecil tadi memang disengaja. Matanya sempat melirik ke arah Allysa, menikmati ekspresi kacau gadis itu. “Benci?” ulangnya sinis. “Kebencian adalah bentuk lain dari perhatian. Dan aku suka perhatianmu.” Amarah Allysa memuncak. Ia meraih vas kecil di meja kaca dan melemparkannya ke arah Lucas. Pria itu hanya sedikit menunduk, vas menghantam dinding di belakangnya dan pecah berantakan. “Kau sakit jiwa! Lepaskan aku atau aku akan bunuh diri di depanmu!” Lucas merapatkan kancing kemejanya, matanya tajam menusuk Allysa. “Tidak akan ada lagi kata ‘bunuh diri’, Allysa. Karena kau … akan segera menikah denganku.” Allysa ternganga, wajahnya pucat bercampur merah padam. “APA?! Kau sudah gila total?! Aku tidak akan perna

