Jam dinding di ruang keluarga menunjuk pukul 04.00 pagi ketika satu per satu lampu rumah mulai menyala. Udara masih lembap, sisa dingin malam belum benar-benar hilang. Rumah yang biasanya sunyi pada jam segini kini terasa hidup—semua orang bangun lebih awal demi satu alasan: melepas kepergian Lucas kembali ke Turki. Di ruang tamu, Lucas sudah berdiri dengan pakaian rapi. Kemeja hitam yang melekat pada tubuhnya membuat sosoknya tampak lebih dewasa, lebih kuat—namun mata cokelat gelap itu justru mengisyaratkan hal yang paling ditolak lelaki itu pagi ini: perpisahan. Allysa berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya masih sedikit kusut, pipinya pucat karena kurang tidur. Sejak tadi malam ia tak bisa terlelap sempurna; setiap kali memejam mata, ada bayangan buruk tentang Turki, tentang Vare

