Malam semakin kelam di Jakarta. Udara lembap selepas hujan merayap masuk melewati celah-celah jendela kamar, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Namun kedamaian itu sama sekali tidak menyentuh hati dua pria yang sedang berdiri di halaman belakang: Lucas dan Aiden. Aiden menundukkan kepala sambil menahan helaan napas. “Tuan … saya sudah menghubungi maskapai. Mereka tidak bisa mempersiapkan penerbangan malam ini. Pilot stand-by tidak ada, dan pesawat yang biasa Anda gunakan masih dalam proses pengecekan mesin.” Lucas menatap gelap tanpa berkedip. Rahangnya mengeras. “Lalu kapan?” “Besok pagi, sekitar pukul enam.” Lucas mengembuskan napas panjang, hampir seperti desahan frustrasi yang berusaha ia tahan. “Terpaksa.” Aiden melanjutkan, “Saya sudah menghubungi Marco. Dia akan mengat

