Langit Jakarta tampak kelabu siang itu. Gerimis ringan menyapa atap bandara Soekarno-Hatta yang padat dengan lalu lintas penumpang. Di antara kerumunan wajah lelah setelah penerbangan panjang, seorang wanita berkerudung tipis melangkah pelan — matanya sayu, namun mengandung sinar lega. Allysa baru saja tiba setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh jam dari Istanbul. Tas kecilnya ia peluk erat, seolah di dalamnya tersimpan seluruh sisa kekuatan yang ia punya. Ketika pintu kedatangan terbuka dan aroma tanah air menyentuh hidungnya, sesuatu di dalam d**a Allysa bergetar. Antara haru dan sedih — semuanya menyatu, menjadi satu gelombang rasa yang tak bisa ia tahan. Air mata mengalir pelan tanpa suara. Ia berdiri sejenak di tepi terminal, menatap hiruk-pikuk bandara yang dulu terasa biasa

