Pagi itu, suasana di mansion keluarga Alberto terasa lebih tenang. Setelah malam panjang penuh emosi, Lucas duduk di ruang kerjanya ditemani Marco. Meski wajahnya tampak pucat dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tatapan matanya sudah kembali tajam — tatapan seorang pria yang siap menghadapi dunia. Di meja depannya, berderet beberapa laporan hasil investigasi anak buahnya. Marco baru saja kembali dari kantor pusat, membawa kabar yang ditunggu-tunggu. “Tuan,” katanya dengan nada formal, “tim kita sudah menyisir manifest penerbangan menuju Asia. Ada satu nama perempuan dengan inisial A.M yang berangkat ke Jakarta menggunakan paspor darurat milik Kedutaan Indonesia. Waktunya sesuai dengan malam ketika kebakaran terjadi.” Lucas menatap Marco tanpa berkedip. “Jadi benar … dia pulang ke Indon

