Malam itu udara terasa lengket dan basah. Di dalam kamar villa yang tenang, hanya suara napas mereka yang terdengar. Sunyi... tapi menggoda. Baby bersandar di dinding, masih mengenakan dress tipis yang kini sudah setengah terbuka. Bahu kirinya terekspos, bagian d**a terangkat turun saat ia menarik napas gugup. Di hadapannya, Reigan berdiri dengan kemeja terbuka sebagian, dadanya naik-turun dengan napas yang dalam dan tidak stabil. Tadi hanya pelukan. Lalu ciuman. Tapi sekarang—semuanya meledak tanpa peringatan. Tubuh mereka saling menempel. Reigan mendorong Baby ke dinding, tangannya menyusuri pinggang sang gadis, bibirnya mencium bagian leher hingga ke tulang selangka. Desahan Baby yang tertahan membuatnya semakin hilang kendali. Ia mengangkat Baby sedikit, membuat gadis itu memeluk p

