Storm mundur. Ia kembali menutup pintu ruangan, yang sudah sempat ia buka tadi. Lalu, ia juga kembali lagi ke hadapan wanita, yang kini menatap kedatangannya. "Apa tidak ada sedikit saja, rasa belas kasih Mommy, untuk anak Mommy sendiri?" tanya Storm yang tengah dilanda keputusasaan. Ia bahkan tidak diberikan kesempatan sedikitpun, untuk bebas dan malah dengan sengaja dikurung dan juga dipaksa untuk memilih hal, yang sulit sekali untuk ia putuskan sendiri. "Semua yang Mommy lakukan ini, adalah bentuk rasa sayang Mommy terhadap kamu. Mommy tidak mau kamu terjerumus lebih jauh lagi. Mommy hanya ingin yang terbaik untuk kamu." Storm menutup bola matanya yang terasa panas, dengan kelopak matanya sendiri. Pusing sekali. Ia sudah kehabisan akal untuk menghadapi ibunya, yang penuh dengan perhi

