Hot Daddy

1284 Words
Kapten Ryu masih berdiri di tengah kamar hotelnya, ponsel di tangan, napasnya sedikit berat. Hujan Bali terdengar semakin jelas di luar jendela. Tetesannya menampar kaca dengan ritme pelan yang menenangkan, tapi pikirannya justru semakin tidak tenang. Baru beberapa menit lalu dia menutup telepon dari Pritha sang istri. Wanita itu benar-benar aneh. Mulutnya tidak pernah bisa dijaga. Namun entah kenapa, setiap kali berbicara dengannya, suasana hati Ryu selalu berubah sedikit lebih ringan. Kapten Ryu menggeleng sambil memijat pelipisnya. "Dasar makhluk aneh..." gumamnya lagi. “Bisa-bisanya dia kirimin foto itu, biar apa coba? Biar aku mau sentuh dia? Jangan mimpi! Aku tidak akan mewujudkan keinginan siapapun, kecuali ibuku. Masih banyak jalan untuk membuat dia hamil, kenapa harus tidur segala?” Geramnya sambil berjalan menuju meja dan meletakkan ponselnya, berusaha mengalihkan pikirannya dari pesan yang baru saja dia lihat. Namun bayangan gambar yang dikirim Pritha barusan justru terus membayang di kepalanya. Menari-nari seolah meminta tempat untuk di ingat. Kapten Ryu mendecak kesal. "Tanah liat di kasih nyawa satu ini, bener-bener ngeselin banget ga punya malu banget jadi cewe. Jual mahal dikit, kek.” Geramnya kesal. Meski begitu, sudut bibirnya tanpa sadar tertarik sedikit. Dia mengambil botol air mineral dari minibar dan meneguknya panjang. Saat itu, di tempat yang sangat jauh dari Bali. Carissa sedang duduk santai di sofa apartemen mewahnya di Paris. Di tangannya ada gelas wine merah. Dia duduk di pangkuannya seorang pria paruh baya, yang ketampanannya mulai memudar, terlebih perutnya membuncit, wajahnya mulai dipenuhi keriput, tapi jas mahal yang dikenakannya menunjukkan bahwa pria itu sangat kaya dan berpengaruh. Carissa tertawa kecil ketika pria itu membisikkan sesuatu di telinganya. “Apakah kau puas, Sayang denagn permainan tadi?” Bisiknya lagi. “Atau, kau ingin melihat anakku bercinta dengan wanita lain dan itu yang makin membuatmu gila?” Bisik pria itu. Pria yang sudah lama berbagi kehangatan dengan Carissa bahkan sejak dirinya belum bertemu dengan kapten Ryu, atau menjadi model se terkenal sekarang. “Aku selalu ingin sensasi berbeda, dan aku ingin melihat Ryu bersama wanita lain…” bisiknya di telinga pria itu. “Tenang saja, kita akan membuat Jessica bisa tidur dengan Ryu dan kita akan menikmati video itu. Percayalah, kau akan semakin liar dan nakal, aku tidak sabar merasakan kenakalanmu…” bisiknya dengan lidah menjulur menikmati leher wanita yang menjadi menantunya. “Oughh! Sayaang…membayangkan saja aku sudah ingin segera menikmatinya, aku tidak sabar melihat pria itu menikmati dengan wanita lain…” “Tenang saja, kau pasti puas seperti biasa, dan hanya aku yang bisa memuaskanmu…” bisik pria itu sambil memainkan jemarinya di antara kedua s**********n sang model terkenal. “Ahhh! Yesss! Oughhh…fast babe….” Carissa melenguh nikmat atas apa yang di lakukan ayah kapten Ryu padanya. Pria yang di anggap sang kapten sudha tiada, ternyata diam-diam menjalin kasih dengan wanita yang menjadi istrinya. “Kamu gampang sekali becek akhir-akhir ini…” bisik pria itu lagi sambil meremas kedua pegunungan kembar dengan kuat. “Oughh! Yess…shhh….” “Enak?” Bisiknya dengan nafas memburu. “Sangat. Seperti biasa, aku tak pernah mengecewakanku…” bisik Carissa yang sudah melumat bibir pria tua itu. “Aku ingin berbeda malam ini…” bisik pria tua itu lagi. “Apa?” “Aku ingin ada wanita lain di sini…” “Kau?!!” “Ayolahh….aku sudha cukup mengikuti semua keinginanmu, apa salahnya aku juga menikmati kehangatan yang berbeda…” “Tapi ingat, hanya untuk main-main…” bisik Carissa yang merasa takut pria paruh baya itu jatuh hati pada gadis lain. “Jangan kawatir, selama milikmu yang cepat becek sekarang ini masih legit, aku tidak akan berpaling pada wanita lain, sudah puluhan tahun kebersamaan kita bukan?” Bisiknya dan Carissa langsung memeluk pria itu, membenamkannya di pegunungan kembar miliknya. “Jilati milikku, sekarang…” bisik Carissa dengan suara memburu. “Heii…tunggu lah, aku ingin wanita itu datang dulu…” “s**t! Kau ingin mengadu kami?” Tantang Carissa lagi denagn sorot tidak senang. “Dia model juga, kau mengenalnya mungkin…” tawa pria itu terkekeh. “Dimana dia sekarang?” “Sebentar lagi akan masuk…” bisiknya sambil membelai rambut menantunya dengan senyum paus, “percayalah, kau tetap kesayanganku selama kau patuh padaku.” Imbuhnya lagi. “Kapan aku menolak permintaanmu? Bahkan aku merelakan suamiku menikah dengan wanita lain, juga atas perintahmu bukan? Kau ingin melihat sensasi anakmu beristri banyak bukan?” Gumam Carissa lagi. “Aku ingin dia dalam genggamanku meski semua dunia menganggapku sudah mati. Tapi, aku hidup di belahan lain yang bisa mengontrol hidupnya…” ucapnya dengan tawa terkekeh membayangkan betapa manusia bodoh yang ada di hidupnya dulu tengah menikmati kebodohan dengan kenyataan yang dia ciptakan. Tok! Tok! Tok! Sebuah ketukan pintu membuat pria paruh baya itu menoleh ke arah Carissa atau menantunya. “Kamu harus sembunyi dulu, anggap dia tidak tahu ada wanita lain di kamar ini. Aku ingin kau datang tiba-tiba menerkamku saat aku sedang menikmati bersamanya, rebut aku dari wanita lain, dan kuasai aku…” bisiknya membuat Carissa menatap kesal. “Awas saja kau menikmati permainanmu..” “Tentu aku harus menikmati, Sayang. Aku sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk membawanya ke kamar ini…” bisiknya lagi membuat Carissa tak bisa berkata-kata lagi dan mengikuti perntah pria apruh baya itu karena takut kariernya hancur jika melawan pria yang sudah membuatnya melejit seperti sekarang. Pria paruh baya itu melepas pakaiannya dan hanya mengenakan kimono mandi melangkah menuju pintu dan membukanya, dan benar saja, model terkenal dan memiliki wajah sangat cantik dengan body yang seksi memasuki kamar itu. “Hello…” Sebuah ciuman panas menyambut di depan pintu, mereka saling berpelukan dan menikmati ciuman panas sampai masuk ke dalam kamar. *** Sementara di lokasi yang berbeda tampak Jessica berdiri di depan cermin kamar hotelnya. Lampu kamar memantulkan bayangan tubuhnya dengan jelas. Dia telah mengenakan pakaian lebih menggoda dan indah. Dia melihat isi tas nya yang berisi obat per4ngsang untuk sang kapten, meski jauh di dalam hatinya, ada sedikit keraguan. "Kapten Ryu..." gumamnya pelan. Dia ingat cara pria itu menatapnya di pesawat tadi. Tenang. Dingin.Sulit ditebak. Tapi, justru itulah yang membuatnya semakin penasaran. “Aku tidak pernah se-penasaran ini terhadap laki-laki, atau se ingin ini bisa tidur dengan laki-laki, tapi kamu, sejak pertama kita ketemu secara acak ngobrol santai, tertawamu dan caramu menatap malam itu, aku benar-benar tidak bisa melupakan kenangan kita di night club.” Gumamnya lagi. Dia menutup tas itu perlahan. "Dan malam ini, aku ingin kita bersama berbagi kehangata dan semoga aku tidak salah langkah..." Dia menarik nafas panjang. Lalu berjalan menuju pintu kamar. Sebelum keluar, dia menatap sekali lagi bayangannya di cermin. Senyum kecil muncul di wajahnya. "Kapten Ryu," bisiknya pelan. "...malam ini aku akan mencoba membuatmu berubah pikiran." Gumamnya sambil menuruni lift dan menuju mobil sport yang sudha tersedia untuknya, dia menuju rumah spa paliing terkena di Bali. Wajahnya tersenyum sambil menatap rumah spa itu. “Aku harus wangi dan memberikan kesan berbeda padanya, setidaknya aku hadir tidak untuk di lupakan…” gumamnya lagi lalu melangkah masuk ke dalam tempat perawatan wanita yang terkenal denagn harga yang super mahal. Waktu terus berlalu dan akhirnya malam tiba, Jessica keluar dari rumah SPA setelah mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk sebuah perawatan kecantiakn, dia langsung menuju hotel dimana sang kapten berada, seoalh wanginya jangan sampai tercium oleh orang luaran. lift hotel di Bali berhenti di lantai sepuluh. Pintu terbuka perlahan. Jessica melangkah keluar. Koridor hotel terlihat sepi. Lampu-lampunya redup. Dia berjalan perlahan menyusuri lorong itu. Matanya mencari nomor kamar tertentu. Kamar Kapten Ryu. Langkahnya berhenti di depan pintu itu. Jessica menarik napas dalam. Lalu mengangkat tangannya. Tok. Tok. Tok. Dia mengetuk pintu kamar itu dengan senyum tipis di bibirnya. “Permainan malam ini akhirnya akan dimulai. Sungguh aku tidak sabar…” bisiknya lagi sambil memasang wajah sumringah dan sesekali menciumi tangannya yang sangat wangi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD