Tantangan Tidur dengan Kapten

2007 Words
Hujan Bali masih turun tipis ketika mobil kru akhirnya berhenti di depan hotel tempat para awak Qatana Airways menginap. Lampu lobi memantul lembut di lantai marmer yang basah oleh jejak air dari para tamu yang baru masuk. Kapten Ryu turun dari mobil dengan langkah tenang, koper kecilnya ditarik di belakang. Seragam pilotnya masih rapi, meski hari itu terasa panjang setelah penerbangan dengan cuaca buruk. Co-pilot menepuk bahunya ringan. "Capt, kita ke bar dulu sama beberapa cabin crew. Mau ikut?" Tatapnya pada sang kapten Kapten Ryu menggeleng cepat. "Tidak. Saya mau istirahat." Sahutnya santai., Co-pilot tersenyum miring. "Serius? Bali loh ini, Capt…” "Justru karena Bali." Dia tidak menjelaskan lebih jauh. “Tapi gak ketemuan diem-diem sama yang tadi, kan, Capt?” Ledek sang co-pilot sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Sembarangan kamu.” Ketusnya tapi tidak ada nada marah di sana. “Ya, kali aja. Tadi kapten malu-malu depan kita…” “Dih! Sejak kapan gua depan kalian begitu?” “Hehe, iya deh, Capt. Kita mampir dulu ya? Selamat istirahat, Capt.” “Oke, Have fun, yaa?” “Terimakasih, Capt…” Setelah mengucapkan kalimat perpisahan singkat, kapten Ryu langsung berjalan menuju lift. Beberapa menit kemudian dia sudah berdiri di dalam kamar hotelnya di lantai sepuluh. Kamar itu luas, dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah laut yang gelap di kejauhan. Hujan masih turun. Kapten Ryu membuka topinya, meletakkannya di meja, lalu melonggarkan dasi seragamnya. Dia menarik nafas panjang. Memang hari itu melelahkan, karena dia menggunakan seluruh fokusnya untuk keselamatan penumpang dan bila hal itu sudah terjadi, yang biasa dia lakukan adalah beristirahat meski ini adalah Bali. Selain turbulensi, pendekatan pendaratan yang tidak mudah, yang paling melelahkan adalah pertemuan yang cukup... aneh dengan model yang dia temui di Tokyo kala itu, dan anehnya bisa satu pesawat dengan dirinya dan menagtakan seolah perjalanannya sudah dia rencanakan tadi. “Tidak mungkin sudah di rencanakan, mungkin hanya kebetulan saja…” gumamnya sambil menggeleng kecil, lalu berjalan menuju minibar untuk mengambil air mineral. Tapi belum sempat dia membuka tutup botolnya, tiba-tiba ponsel di mejanya bergetar. Drrttt…ddrrttt… Kapten Ryu melirik layar untuk melihat siapa yang menghubungi, dan seketika dia mencibir. “Beugh! Si tanah liat di kasih nyawa tau aja kalau sudah mendarat.” Gumamnya lalu mengabaikan panggilan itu. Meskipun Pritha adalah istri sah nya juga, tapi dia enggan mengangkatnya. Ddrrtt…ddrrr… Panggilan kembali muncul di layar. “Ngeyel banget sih ni orang, heran deh…” gerutunya tapi, dia segera menghentikan kalimat umpatannya setelah melihat nomor yang muncul membuat alisnya sedikit terangkat. “Tumben banget dia nelpon?” Gumamnya setelah membaca nama yang muncul di layar. Ya, dia adalah Carissa istri pertama kapten Ryu yang memang dia nikahi tujuh tahun lamanya, dan wanita itu saat ini sedang keliling Eropa bersama teman-temannya untuk berlibur. Kapten Ryu menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab. "Sayang..." Suara wanita di ujung sana langsung terdengar lembut, hampir terlalu lembut. “…kamu sudah sampai Bali?" Nada suaranya terdengar manja dan hangat, seperti seorang istri yang benar-benar merindukan suaminya, meskipun kenyataannya justru dia yang mendorong sang suami untuk menikahi wanita lain hanya demi memiliki keturunan. "Sudah, kamu dimana?" jawab Ryu pendek. "Penerbangannya aman?" Tanyanya basa-basi, karena hal ini hampir tidak pernah di lakukan sang istri. "Ya begitulah, tumben kamu nelpon, Yank?" Carissa menghela nafas kecil di ujung sana, seolah benar-benar lega. "Ahh! Syukurlah, aku selalu khawatir setiap kamu terbang," katanya pelan. Ryu berdiri lalu berjalan menuju jendela. "Tumben kamu kawatirin aku, ada apa lagi ini? Jangan bilang kamu minta aku macam-macam, Ca. Tdak ada honeymoon, titik!” Potong sang kapten yang masih kesal terhadap istrinya karena justru menjadi pendorong untuk dirinya menikahi wanita lain meski hanya sekedar kontrak, dan pemaksaan itu cukup melukai hati sang kapten. "Kok kamu gitu, Sayang. Aku selalu kawatir tau..." jawabnya cepat, “aku juga gak minat nawarin kamu honeymoon, toh aku yakn kamu sudah melakukannya…” Carissa tertawa kecil. Beberapa detik hening. Lalu sang kapten menjawab. "Melakukan apa?" “Yah! Masak kamu gak tahu arah pembicaraanku, Sayang?” “Aku gak paham, Ca.” Sahutnya ketus. "Kamu capek?" Carissa menjawab cepat, seolah tahu mood suaminya sedang tidak baik. "Lumayan." "Kalau aku di sana pasti sudah pijitin bahumu." Kapten Ryu tidak menjawab, tapi dia tertawa sumbang. “Sejak kapan kamu paham service suami begitu?” “Ihh kamuu…sejak punya istri dua kok jutek amat, Sayang? Sudah jatuh cinta kah kamu sama anak desa itu?” Ucapnya cepat, “aku jadi cemburu nih…” Kalimat itu terdengar seperti kalimat romantis seorang istri, tapi entah kenapa terasa... kosong. Carissa memang selalu seperti itu. Manis. Hangat. Namun selalu terasa ada jarak yang tidak terlihat. “Kenapa amu nelpon? Kurang uang?” Tanya sang kapten lagi. "Aku cuma menelepon sebentar," lanjut Carissa. "Mau memastikan kamu baik-baik saja." Kapten Ryu mengangguk kecil meski wanita itu tidak bisa melihatnya. "Aku baik." Namun Carissa tidak langsung menutup telepon. Sebaliknya dia berkata santai. "Di pesawat tadi... ada penumpang menarik gak, selain istri kedua kamu yang kampung itu?" Pertanyaan itu terdengar ringan. Namun cukup membuat kapten Ryu menautkan dahi, lalu sengaja dia menjawab. "Ada." Carissa tersenyum kecil di ujung telepon. "Benarkah?" "Ya, sepertinya dia model juga." Sahut sang kapten yang terlihat seolah ingin membuat panas sang istri. Dia menahan nafasnya menyandarkan punggungnya ke kursi. “Apakah dia cukup menggoda?” Sang istri terdengar penasaran. "Hmm…cukup menarik." Sahut sang kapten dengan senyum sinis, “kenapa? Kamu mau jodohin aku juga dengan wanita itu? Atau kamu ingin aku tidur dengan wanita itu juga?” Carissa tertawa kecil. "Wah... gak gitu juga, Sayang. Aku cuma bangga ternyata suamiku sangat laris ternyata." "Gak penting banget bahasan kamu. Kapan kamu pulang?”’ Tanya sang kapten lagi merasa bosan sendiri membahas hal itu. "Jawab dulu pertanyaan aku? Cantiakn mana cewe tadi sama istri kampung kamu?” Kapten Ryu berpikir sebentar. "Wanita pasti cantik. Dan wanita tadi juga lumayan.” Carissa mengangkat alis, dia mengenal suaminya. Kalau sang suami mengatakan "lumayan", biasanya berarti wanita itu sangat cantik. Namun nada suaranya tetap santai. "Trus, minta nomer hp nya gak?" "Jangan ngawur kamu, Ca." Carissa memutar gelas wine di tangannya. "Aku cuma mau mastikan suamiku apakah masih setia denganku atau tidak?" "Terserah kamu deh." "Hm." Dia tersenyum tipis. "Sayang, aku cuma mau bilang, setelah penerbangan melalahkan jangan lupa bersenang-senang ya? Bali adalah tempat yang indah untuk bersenang-senang…” Kapten Ryu mengerutkan kening. "Bukankah kamu sendiri yang selalu bilang aku harus menjaga reputasi di Indo?." Carissa tertawa lagi. "Iya juga. Tapi, khusus malam ini, kamu bebas deh. Mau ngapain aja bebas…” jawabnya cepat seperti sudah terkonsep kalimat yang keluar dari mulut sang isti. Beberapa detik hening. Kapten Ryu tidak tahu bahwa pada saat yang sama, ribuan kilometer dari Bali, Carissa sedang duduk santai di apartemen penthouse di Paris bersama seorang pria yang sedang memangkunya, pria berperut buncit. Rambut panjangnya tergerai rapi, wajahnya masih sempurna seperti ketika tampil di runway. Top model Asia. Wanita yang selama bertahun-tahun menjadi wajah berbagai merek internasional. Wanita yang sangat menjaga tubuhnya. Sangat menjaga penampilannya. Termasuk satu keputusan besar yang pernah ia buat dalam hidupnya. Keputusan untuk tidak pernah hamil. Carissa tidak ingin tubuhnya berubah. Tidak ingin kariernya berhenti. Dan karena itulah dia membuat sebuah rencana. Rencana yang bahkan suaminya sendiri tidak benar-benar pahami. Ketika sang suami mulai berbicara tentang anak atas permintaan ibu mertuanya yang memang sakit keras, dia justru mendorong sang suami kepada wanita lain. Semua terlihat seperti pengorbanan seorang istri yang baik. Seolah dia rela berbagi suami demi memberikan anak yang diinginkan Ryu, karena dirinya memang tidak bisa hamil dan melahirkan. Namun kenyataannya, Carissa hanya ingin satu hal. Tetap mempertahankan kehidupannya sendiri tanpa kehilangan Ryu. Dia yakin Ryu tidak akan pernah benar-benar jatuh cinta pada wanita sederhana seperti Pritha. Dan selama ini rencananya berjalan sempurna. “Yasudah lah, aku mau istirahat…” ucap sang kapten ketika melihat ada panggian lain masuk dan membuatnya merasa semakin bosan bericara dengan sang istri. “Hmm, okay. Jangan lupa bersenang-senang selama di Bali, Sayang…” Tanpa menjawab sang kapten langsung mematikan pangikan itu dan mengalihkan panggilan lainnya. “Hmm, halo, kenapa?” Tanyanya cepat beruntun seolah dia ingin meluapkan kekesalannya. “Mas, kamu udah sampai?” Tanya suara di seberang. “Dah.” “Ihh! Kok gak ngabarin sih? Pasti kamu ngarepin aku nanyain kan?” Suara penuh percaya diri sang istri kedua membuat kapten Ryu tanpa sadar tersenyum. “Dih! Ge-er. Siapa juga yang mau di telpon mahluk aneh kayak kamu…” “Si aneh yang ngangenin kan, Mas? Sama aku juga kangen kamu…” jawabnya dan seketika wajah kapten Ryu memerah. “Bisa gak sih, kalau ngomong itu ya ngomong aja, jangan seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran aku.” “Yah abisnya kamu masih malu-malu sih.” Tegasnya lagi. “Malu-malu gundulmu itu.” Dengkus sang kapten menahan tawanya,., “Kok tahu punyaku baru aku gundul, Mas? Ehmm…udah siap kunjungan sosial sih, Mas. Atau perlu aku nyusul ke Bali, Mas?” Bisik Prita lagi membuat kapten Ryu tersipu. “Ngomong apa sih kamu. Random banget gak jelas…” gerutunya. “Makanya biar jelas, ayo coba kita lakuin, Mas. Pasti kamu ketagihan nanti…” bisik suara di seberang. “Udah, ahh! Aku mau istirahat…” “Mas, mau aku pap gak hutan gundulku?” Suara di seberang terdiam. “Pap apaan? Jangan gila kamu, Pritha!” Kapten Ryu langsung menyangkal dan seketika masuk notif. “Mas, aku udah kirim, kamu boleh lihat dulu buat pemanasan…” “Ihh! Amit-amit. Udah aku matiin!” Klik! Seketika bunyi suara panggilan terhenti, dan kapten Ryu justru melupakan obrolannya dengan Carissa istri pertama yang menjengkelkan hanya gara-gara ngobrol sebentar bersama istri kedua yang baru dia nikahi beberapa minggu lalu. “Dasar orang gila, mahluk aneh…” gerutunya lagi. Dan tanpa sadar tangannya menekan pesan masuk yang di kirim sang istri. “Astagaaaa!! Anak sinting nih. Bisa-bisanya dia kirim beginian ke aku, dia pikir aku ini cowok c***l apa?” Gearmnya melihat gambar milik sang istri yang terlihat mulus setelah di cukur. Tapi, kedua matanya tak berkedip memandang gambar itu, gambar yang tampak indah dan menenangkan meski dia belum pernah merasakanya. Kapten Ryu menelan ludahnya. Sementara di lokasi yang berbeda Jessica berdiri di depan cermin kamar hotelnya. Gaun hitam yang tadi dia pakai di pesawat sudah diganti dengan dress yang lebih santai, namun tetap menonjolkan tubuhnya. Dia tersenyum melihat refleksinya. Di tangannya ada sebuah pesan baru. Dari Carissa. “Apakah dia menolak? Jessica tertawa kecil. Dia langsung mengetik balasan cepat. “Sepertinya begitu, dia kayaknya sangat setia…” Beberapa detik kemudian balasan datang. “Jangan menyerah. Kalau kau memang jatuh cinta pada pria itu, dan mau mendapatkan pria itu, kau harusnya lebih berusha untuk mendapatkannya, bukankan pencarianmu juga cukup lama?” Jessica mengangkat alis. “Menurut kamu? Apakah mungkin aku bisa menahlukannya, aku tidak tahu apakah dia sudah menikah atau belum, aku belum mencari tahu tentang dia lebih jauh, aku hanya ingin bersamanya tapi takut dengan kenyataan tentang dia, aku juga tidak ingin menjadi perusak jika dia adalah pria setia.” Balasan Carissa datang cepat. “Persetan apakah dia menikah atau tidak, punya istri berapa? Yang jelas dia pria yang kamu mau, dan kamu harus mendapatkannya atau kamu menyesal karnea kehilangan kesempatan?” Jessica tersenyum miring. Dia meletakkan ponselnya di meja. Lalu mengambil tas kecilnya. Matanya kembali menatap pantulan dirinya di cermin. "Kapten Ryu..." gumamnya pelan. Senyumnya perlahan melebar, “…aku sangat ingin tidur denagnmu,dan mungkin punya anak darimu, apakah mungkin, tapi kenapa teman-teman mendorongku mendapatkanm?” “Menurutmu gimana?” Jessica memutuskan membalas pesan singkat Carissa. “Datangi tempat dia menginap, beri obat dan tidur dengannya, lakukan apapun yang kamu mau…” “Yakin?” “Ya, nikmati malam mu dan nikmati kesempatan yang tidak akan pernah datang dua kali…” balasan singkat itu datang terlalu cepat, seolah orang dari seberang sangat antusias. Dia mengangguk cepat, melangkah menuju lemari dan mengganti pakaiannya lalu meraih obat dan memasukkan nya ke dalam tas. “Baiklah, semoga aku tidak salah langkah, dan semoga dia menerimaku…” “Semoga berhasi, rekam semuanya berikan padaku hasilmu…” “Aku tdiak janji berhasil, tapi aku akna berusaha unntuk bisa menahlukan pria impianku…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD