"Capt, itu cewek tadi lumayan juga deh..." co-pilot tampak memecahkan keheningan.
"Ambil buat lo kalau emang lo doyan."
"Lah! Kenapa, Capt? Sayang banget di anggurin, Capt. Dia nafsu banget tuh deketin kapten sampai ikutan terbang segala..."
"Jangan sotoy. Lagian, bukan waktunya buat mikirin cewek. Lo tau kan? Yang di rumah gua udah koleksi dua yang sah?" Tatapan sang kapten menatap lurus partner kerjanya.
"Ya, kan lumayan, Bro. Kalau ada rejeki janagn di lewatin..."
"Lagi gak minat."
"Hmm...sepertinya sejak nikah lagi alias istri dua, auranya udah kewalahan...." Sang co-pilot terkekeh.
"Sialan, lo!" Geramnya ikutan terkekeh, dan seketika terlintas senyum menggoda dan pose yang sok imut sang istri yang membuat sang kapten bergidik ngeri sambil menggeleng.
"Kenapa, Bro?"
"Enggak! Gua keingat mahluk aneh yang gua temui bellakangan..."
"Hah? Siapa?"
"Adalah, pokoknya."
"Widih!"
Obrolan ringan seperti biasa memenuhi ruangan kokpit. Kapten Ryu meskipun dingin terhadap wanita tapi dia hangat kepada rekan kerjanya meskipun dia telah menjadi kapten yang terkenal sejak aksi heroiknya menyelamatkan ratusan penumpang dari pembajakan pesawat beberapa tahun lalu.
Dan langit di atas Bali siang itu tidak seramah biasanya, padahal Bali juga menjadi salah satu pendaratan yang di sukai oleh kapten Ryu, terlebih dalam suasana hidupnya yang sedikit kacau seperti sekarang, sang istri yang tdak memahami keinginanya, dan istri mudanya terlalu agresif padanya di tambah sang ibu yang terkesan mendukung apa yang di lakukan sang istri kedua.
Dari balik kaca kokpit, awan gelap tampak menggumpal seperti dinding raksasa. Kilatan tipis petir sesekali menyala di kejauhan, sementara radar cuaca di panel depan menampilkan bercak merah dan kuning yang menandakan area badai.
Kapten Ryu menatap layar itu dengan tenang, meskipun rahangnya sedikit mengeras.
"Cuacanya lagi jelek, Capt," gumam co-pilot di sebelahnya memandangi sekeliling dengan lesu.
Kapten Ryu hanya mengangguk pelan.
"Ya. Selamat datang di Bali musim hujan, beginilah. Padahal Bali salah satu pendaratan yang gua suka."
Tiba-tiba pesawat sedikit bergetar saat memasuki lapisan awan yang lebih tebal. Getaran kecil itu terasa di seluruh badan pesawat, seperti kendaraan yang melewati jalan berbatu di udara. Lampu seatbelt sudah lama menyala.
Dari kabin belakang terdengar suara pengumuman dari pramugari.
"Para penumpang yang kami hormati, mohon tetap duduk di kursi masing-masing dan kenakan sabuk pengaman Anda. Saat ini pesawat sedang melewati area cuaca kurang baik. Terimakasih." Lalu sang pramugari berbicara dengan bahasa inggris dengan kalimat yagn sama.
Sementara itu di kokpit, Kapten Ryu sudah mengenakan headsetnya dan menekan tombol komunikasi.
"Ngurah Rai Approach, Qatana Seven-One-Two, request descent."
Beberapa detik hanya terdengar desis radio. Lalu suara petugas ATC terdengar jelas.
"Qatana Seven-One-Two, Ngurah Rai Approach. Radar contact. Descend to eight thousand feet."
Kapten Ryu segera menjawab dengan suara tenang.
"Descending to eight thousand feet, Qatana Seven-One-Two." Dia memutar knob di panel autopilot. Hidung pesawat sedikit menunduk ketika ketinggian mulai diturunkan. Awan di depan semakin tebal. Pesawat masuk ke dalamnya. Sekejap saja dunia di luar jendela berubah menjadi putih pekat.
Lalu...
Pesawat berguncang. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat badan pesawat bergetar. Co-pilot melirik indikator kecepatan.
"Turbulence moderate."
Kapten Ryu tampak tetap tenang.
"Keep monitoring."
Pesawat kembali berguncang, kali ini sedikit lebih kuat. Lampu panel bergetar halus. Di kabin penumpang, beberapa orang mulai memegang sandaran kursi. Seorang anak kecil menangis pelan.
Sementara di kokpit, kapten Ryu kembali menekan tombol radio.
"Ngurah Rai Approach, Qatana Seven-One-Two passing nine thousand for eight thousand."
"Qatana Seven-One-Two, roger. Turn right heading one three zero."
Kapten Ryu mengulang instruksi itu.
"Right heading one three zero, Qatana Seven-One-Two."
Dengan lihai dia memutar kontrol arah. Pesawat perlahan berbelok di tengah awan gelap.
Tiba-tiba...
BRUUM!
Pesawat turun sedikit akibat kantong udara. Co-pilot refleks memegang panel.
"Whoa..."
Namun sang kapten masih tenang, mesk di dalamnya tidak ada yang tahu isi hatinya saat ini, yang jelas kapten Ryu tetap fokus pada instrumen.
"Relax. Masih aman."
Dia menyesuaikan throttle sedikit. Getaran masih terasa. Beberapa detik kemudian suara ATC kembali terdengar.
"Qatana Seven-One-Two, descend to five thousand feet. Expect ILS approach runway zero nine."
"Descend to five thousand. Expect ILS runway zero nine. Qatana Seven-One-Two."
Pesawat semakin rendah. Namun badai di depan belum selesai. Radar cuaca menunjukkan garis merah tepat di jalur mereka. Co-pilot menunjuk layar.
"Capt, sel badai di depan."
Kapten Ryu menyipitkan mata lalu memutar otak dengan cepat.
"Kita geser sedikit."
Dia menekan tombol radio lagi.
"Ngurah Rai Approach, Qatana Seven-One-Two request deviation ten miles left due weather."
Radio menjawab hampir seketika.
"Qatana Seven-One-Two, deviation approved. Report when back on course."
"Roger. Qatana Seven-One-Two."
Pesawat sedikit membelok ke kiri untuk menghindari inti badai. Meski begitu, turbulensi masih tetap terasa meski sang kapten sudah berusaha maksimal. Pesawat kembali bergetar. Di kabin belakang, beberapa penumpang terlihat tegang. Gelas plastik di tray table bergetar halus.
Namun dengan sigap sang kapten langsung mengambil tindakan, dan suara kapten Ryu tiba-tiba terdengar melalui sistem pengeras suara.
"Ladies and gentlemen, this is Raden Ryuga Bagaspati your captain speaking." Suaranya tenang. Stabil.
"Kami sedang melewati area cuaca kurang bersahabat. Turbulensi yang Anda rasakan adalah hal yang normal dalam kondisi seperti ini."
Dia berhenti sejenak.
"Mohon tetap duduk dan kenakan sabuk pengaman. Kami akan segera melakukan pendekatan untuk mendarat di Bali dengan selamat." Lalu dia kembali berkata dengan kalimat bahasa inggrs.
Suaranya membuat beberapa penumpang sedikit lebih tenang, siapa yang tidak tenang jika mengetahui pilot mereka adalah kapten Ryu, kapten yang sangat terkenal dan sangat lihai dalam pendaratan meski suasana tidak stabil.
Di kokpit, co-pilot tersenyum tipis.
"Penumpang pasti langsung tenang kalau dengar suara lo, Capt."
Kapten Ryu hanya mendengus pelan. Beberapa menit kemudian, awan mulai sedikit menipis. Ketinggian pesawat kini sekitar lima ribu kaki. Lampu-lampu kota Bali mulai terlihat samar di bawah sana.
Radio kembali berbunyi.
"Qatana Seven-One-Two, turn left heading zero nine zero. Cleared ILS approach runway zero nine."
Ryu mengulang instruksi.
"Left heading zero nine zero. Cleared ILS approach runway zero nine. Qatana Seven-One-Two."
Dia dengan lihai mengarahkan pesawat ke jalur pendekatan. Landasan pacu masih belum terlihat jelas karena hujan.
Co-pilot mulai menjalankan checklist.
"Landing checklist."
Kapten Ryu mengangguk.
"Proceed."
"Landing gear?"
"Down."
Co-pilot menarik tuas. Suara mekanis berat terdengar dari bawah pesawat.
KRRRKKK
"Landing gear down and locked."
"Flaps?"
"Set fifteen."
Sayap pesawat sedikit berubah posisi ketika flap terbuka untuk memperlambat laju. Pesawat semakin rendah. Hujan kini menghantam kaca kokpit. Wiper bergerak cepat menghapus air. Landasan akhirnya mulai terlihat samar di kejauhan. Namun angin samping membuat pesawat sedikit bergeser. Co-pilot menatap instrumen.
"Crosswind."
Kapten Ryu tetap fokus pada landasan.
"Terkontrol."
Radio kembali berbunyi.
"Qatana Seven-One-Two, wind zero eight zero at twelve knots. Cleared to land runway zero nine."
Kapten Ryu menjawab mantap.
"Cleared to land runway zero nine. Qatana Seven-One-Two."
Kini semua terasa hening di kokpit. Pesawat meluncur turun perlahan. Landasan semakin besar. Lampu runway berkilau di tengah hujan. Ketinggian terus turun. Seratus kaki. Lima puluh kaki. Kapten Ryu memegang kontrol dengan mantap. Angin kembali mengguncang pesawat sedikit. Namun dia menyesuaikan arah dengan tenang.
Co-pilot membaca ketinggian dari radar altimeter.
"Thirty..."
"Twenty..."
"Ten..."
Lalu...
DUG!
Suara roda pesawat menyentuh landasan pacu. Sedikit percikan air terlempar dari ban ketika menyentuh aspal basah. Kapten Ryu langsung menarik tuas reverse thrust.
Mesin menggeram keras. Pesawat melambat dengan cepat di landasan yang licin oleh hujan. Beberapa detik terasa panjang. Lalu akhirnya kecepatan turun stabil. Co-pilot tersenyum lega.
"Smooth landing, Capt. Bravo!"
KaptenRyu hanya menghela nafas pelan. Pesawat keluar dari runway menuju taxiway.
Radio kembali berbunyi.
"Qatana Seven-One-Two, taxi to gate Bravo Three."
"Taxi to gate Bravo Three. Qatana Seven-One-Two." Pesawat bergerak perlahan menuju terminal. Hujan masih turun di luar. Di kabin belakang, sebagian penumpang mulai bertepuk tangan. Kebiasaan kecil yang sering terjadi setiap kali pesawat berhasil mendarat dengan mulus. Di kokpit, kapten Ryu melepas headsetnya. Dia terlihat memijat tengkuk sebentar.
Co-pilot meliriknya.
"Cuaca buruk begini masih bisa landing halus. Nggak heran lo punya fans banyak, Capt."
Ryu hanya tersenyum tipis. "Perasaan lo aja. Tar kalo lo duduk di gua juga lo bakalan ngerasain hal yang sama, insting lo sebagai pengendali bakalan jalan. Intinya wajib banyak belajar, dan jangan gampang puas dengan apa yang di capai.."
"Ini kah kuotes kita hari ini, Capt?" Suara tawa lega terdengar dari bibir manis co-pilot yang terlihat dua tahun lebih muda dari sang kapten.
Sang kapten hanya menghela nafas panjang, entah kenapa, di tengah suara hujan yang menghantam kaca kokpit, dan keberhasilannya mendarat, yang muncul di kepalanya justru wajah Pritha yang tadi pagi melambaikan tangan sambil membuat simbol love ke arahnya. Dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit.