Qatana Airways 712 dan ambisi wanita

1340 Words
Hujan masih turun tipis di luar ketika pesawat Qatana Airways 712 akhirnya berhenti sempurna di gate Bandara Ngurah Rai. Lampu kabin menyala terang, dan suara pengumuman dari pramugari terdengar lembut mengisi ruangan. "Para penumpang yang kami hormati, selamat datang di Bali. Mohon tetap duduk hingga pesawat berhenti sempurna dan tanda sabuk pengaman dimatikan." Di kokpit, Kapten Ryu melepaskan headsetnya perlahan. Dia meregangkan bahunya sebentar, lalu menatap panel instrumen yang kini mulai dimatikan satu per satu oleh co-pilot. "Lumayan juga turbulensinya tadi," kata co-pilot sambil menutup checklist terakhir. Kapten Ryu mengangguk pendek. "Cuaca Bali lagi nggak ramah." Beberapa detik mereka hanya duduk diam, mendengar suara hujan yang memukul badan pesawat. Lalu suara dari kabin masuk melalui interphone. "Capt, penumpang sudah mulai turun." "Copy," jawab kapten Ryu singkat. Dia berdiri dari kursinya, merapikan seragam pilotnya yang sedikit kusut setelah penerbangan tadi. Topinya dia ambil dari sisi panel dan dikenakan dengan rapi. Seperti biasa, setelah penerbangan selesai dia akan keluar dari kokpit dan berjalan melewati kabin untuk memastikan semuanya beres. Namun ketika pintu kokpit dibuka, kapten Ryu langsung berhenti sejenak. Di dekat pintu depan pesawat, seorang wanita berdiri sambil menyandarkan bahunya ke dinding kabin. Wanita itu mengenakan dress hitam sederhana yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. Rambut panjangnya jatuh bergelombang di bahu, dan matanya menatap langsung ke arah Ryu dengan senyum yang seolah sudah menunggunya sejak tadi. Wanita itu. Model dari Tokyo yang sempat bersamanya di sebuah night club di Tokyo. Dia mendorong tubuhnya menjauh dari dinding dan melangkah perlahan mendekat. "Haii...Capt," ucapnya pelan. Suaranya terdengar manja di tengah suasana kabin yang mulai sepi. "Landing-nya keren banget." Dia mengacungkan dua jempolnya dan memamerkan senyum manis di wajahnya. Kapten Ryu menghela nafas pendek. "Loh, kok kamu masih di sini?" Sang kapten menelan ludah, bagaimanapun wanita ini adalah penumpang dan harus diberikan pelayanan terbaik demi nama besar maskapai penerbangan yang saat ini memang menjadi primadona dan mengalahkan milik pemerintah karena pelayanan yang super bagus dan keberadaan sang kapten yang sempat viral karena aksi heroiknya mampu menyelamatkan ratusan penumpang pesawatnya dari aksi terorisme. Wanita itu tertawa kecil. "Kan emang sengaja nungguin kapten Ryu...." Dia menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh, memperhatikan kapten Ryu dari atas sampai bawah tanpa malu. "Sabar aku mah nungguin di sini demi kapten.." ucapnya lagi. Salah satu pramugari yang berdiri tidak jauh dari sana pura-pura sibuk merapikan sesuatu, meski jelas telinganya mengarah ke percakapan mereka. Sang kapten menatap wanita itu datar. "Ada yang bisa saya bantu?" Jawabnya ramah meski tidak seramah wajah sang kapten yang justru terlihat lelah. Wanita itu mendekat satu langkah lagi. Cukup dekat hingga Ryu bisa mencium aroma parfum mahal yang samar. "Karena aku penasaran," katanya sambil sedikit memiringkan kepala dan sengaja menghembuskan nafasnya mengenai leher sang kapten. "Penasaran apa?" "Pilot yang bisa mendaratkan pesawat di cuaca seburuk tadi dengan tenang..." Matanya turun sebentar ke tangan kapten Ryu. "...biasanya juga menarik di luar kokpit. Apalagi di ranjang..." Kapten Ryu mendengkus pelan. "Maaf saya gak paham..." Wanita itu tersenyum semakin lebar. "Masa sih pria matang yang berpengalaman ga paham gimana aksi ranjang?" Beberapa penumpang terakhir akhirnya keluar dari pesawat. Dan suasana kabin menjadi jauh lebih sepi. Wanita itu menatap ke arah pintu pesawat sebentar, memastikan hampir tidak ada orang yang memperhatikan. Lalu dia kembali menatap Ryu. "Capt lagi stay di Bali berapa lama?" "Cuma semalam." "Sayang sekali." Dia menghela nafas dramatis. "Aku di sini tiga hari padahal sengaja buat berjaga-jaga." Wanita itu berjalan perlahan melewati kapten Ryu, lalu berhenti tepat di sampingnya. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Dia menoleh sedikit, cukup untuk membuat rambutnya menyentuh bahu Ryu. "Bali itu tempat yang terlalu indah kalau dinikmati dalam waktu singkat, Capt." Kapten Ryu menatap lurus ke depan. "Maaf, saya sedang terikat dinas." "Semua orang juga kerja, Capt. Ayolah, jangan tegang, buat se rilex ketika kamu mabuk, kamu keren banget kalau pas mabuk, Capt." Wanita itu tersneyum mengoda. "Tentu berbeda dong, harus profesional di saat pakai seragam dan jam kerja, harus profesional selayaknya karyawan." "Tapi, Capt ada waktu kan setelah ini?" Ada nada menggoda yang jelas dalam kalimatnya. Kapten Ryu mengangkat alis sedikit. "Kamu langsung ke inti ya? Saya harus melapor ke bandara soalnya, maksud saya, pekerjaan saya masih ada." Ucapnya lagi. "Malam ini kita have fun ya, Capt?" Ajaknya dan seketika sang kapten menghela nafas panjang. Wanita itu tertawa pelan. "Santai aja, Capt. Toh kita pernah satu meja dan menikmati malam itu..." Ia menyandarkan punggungnya ke dinding kabin lagi, menatap kapten Ryu dengan mata yang penuh permainan. "Apakah kapten lupa?" Kapten Ryu mengingat samar.Lampu klub, musik keras, model-model yang tertawa, dan percakapan yang tidak terlalu dia perhatikan. "Aku ingat sedikit," katanya akhirnya. "Sedikit saja?" Wanita itu pura-pura kecewa. "Aku bahkan ingat Capt, kamu bilang aku menarik." "Ahh, iyakah?" Jawab sang kapten lagi. "Iya, Capt. Masa lupa?" "Sorry, saya memang tidak banyak mengingat kenangan tentang orang-orang yang menarik..." jawabnya cepat. "Kenapa, Capt?" Dahinya bertaut, ada sorot kecewa di wajahnya. "Ya, karena saya bukan orang yang menarik di antara pengunjung club." "Siapa bilang kamu gak menarik, Capt? Kamu justru pria paling menarik dan buat aku itu beberapa bulan ini melakukan pencarian, dan baru ketemu dan sengaja banget aku ambil jadwal terbang kamu, Capt." Tegasnya lagi. "Ohh.." hanya itu yang keluar dari bibir sang kapten. Tapi, sepertinya sang model itu tidak putus asa, dia mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya. Dengan cepat dia mengetik sesuatu lalu memutar layar ponsel ke arah kapten Ryu. Sebuah nama hotel muncul di layar. Hotel mewah di daerah Seminyak. "Aku stay di sini," katanya santai, lalu mengetik nomor kamar di bawahnya. "Suite lantai atas." Kapten Ryu menatap layar itu beberapa detik. Wanita itu menyimpan kembali ponselnya. "Kalau kamu bosen, kamu harus dateng di hotel malam ini, Capt." Dia menatap kapten Ryu lurus. "...please datang aku tungguin." Nada suaranya rendah. Tenang. Namun maknanya sangat jelas. Dia tidak mengatakan kata apa pun yang terlalu langsung, tapi sinyalnya hampir tidak mungkin disalahartikan. Beberapa detik berlalu. Kapten Ryu hanya berdiri dengan ekspresi datar. Wanita itu tampak menikmati reaksi minimal itu. "Tenang saja," katanya sambil tersenyum. "Aku tidak menggigit, aku legit justru..." Dia berjalan beberapa langkah menuju pintu pesawat. Lalu berhenti. Dia menoleh sekali lagi. "Dan Capt..." Kapten Ryu menatapnya. "Kalau gak dateng, aku yang bakal datengin kamu..." Dia mengangkat bahu kecil. "...Bali itu panjang malamnya." Wanita itu lalu turun dari pesawat. Sepatu heels-nya berbunyi pelan di tangga logam. Kapten Ryu berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Seorang pramugara akhirnya mendekat sambil berbisik. "Capt... itu model Jepang yang di Tokyo itu kan? Ngebet banget dia, Capt. Gas lah!" Kapten Ryu mendesah pelan. "Buat kamu saja, masih single toh?" Tatapnya mengintimidasi Pramugara itu menyeringai. "Kalau da mau mah saya mau, dia nya aja ngejar kapten, bukan saya levelan dia." Kapten Ryu berjalan melewati pintu pesawat menuju tangga. Hujan tipis masih turun di luar. "Ya di coba dong, kalau emang minat, ya kali kamu diem aja..." katanya singkat. "Aku jual nama kapten, ya?" Tatapnya. "Berani kamu?" Sang kapten mengepalkan bogem mentah yang siap melayang. "Jangan dong, Capt." Sang kapten melanjutkan langkahnya di iringi oleh co-pilot dan cabin crew. Namun ketika dia melangkah turun dari pesawat...entah kenapa di kepalanya justru muncul bayangan wajah Pritha. Dengan ekspresi ceria. Melambaikan tangan. Dan membuat simbol love dengan jari ke arah mobilnya pagi tadi. Ryu menghela nafas kesal. "Makhluk aneh..." gumamnya. Namun langkahnya tetap berjalan menuju mobil kru yang sudah menunggu di apron bandara. Co-pilot menoleh bingung. "Hah? Siapa yang mahluk aneh, Capt?" Jawab sang co-pilot cepat. Kapten Ryu langsung menatapnya datar. "Kamu." Co-pilot langsung mengangkat kedua tangan. "Oke, oke... saya diam." Jawabnya cepat, dia menggaruk kepalanya, "perasaan dari tadi kapten bilangin mahluk aneh mulu deh..." "Keppo aja kamu." Potong sang kapten cepat. Mobil kru melaju keluar dari apron bandara menuju hotel tempat kru menginap. Namun jauh di belakang mereka, model Tokyo itu masih berdiri di bawah tangga pesawat. Memperhatikan mobil yang membawa Kapten Ryu pergi. Perlahan, senyum tipis muncul di wajahnya. "Menarik..." gumamnya pelan. Lalu dia membuka ponselnya. Mengetik sesuatu. Sebuah pesan singkat terkirim ke seseorang. "Target sudah di Bali." Dia menatap ke arah lampu bandara yang berkilau di tengah hujan. "Permainan akan segera kita dimulai, Capt Ryu." Bisiknya dengan senyum penuh arti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD