52. Mulai Dapat Berpikir Jernih

1208 Words

"Soal Papa kamu," lanjut Fiona hati-hati, "mungkin memang ada hal yang belum siap dia ceritakan. Tapi itu bukan berarti perasaan kamu nggak penting." Berliana menarik napas panjang sebelum menimpali ucapan Fiona. "Aku takut suatu hari nanti aku keburu capek pas tahu apa alasan Papa yang sebenarnya," ucapnya jujur. Fiona tersenyum, meski Berliana tak bisa melihatnya. "Itu kenapa kamu harus mulai jaga diri kamu dari sekarang. Jangan tunggu orang lain sadar baru kamu bernapas." Keheningan pun tercipta tak lama kemudian, namun bukan hening yang menyesakkan. "Liana," panggil Fiona lembut. "Kamu istirahat dulu ya, 'kan kamu lagi sakit." "Iya, Kak." "Dan ingat," suara Fiona terdengar hangat, hampir seperti pelukan, "kamu boleh cerita ke aku kapan saja. Nggak harus merasa kuat sendirian."

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD