Sekitar satu jam kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Berliana menoleh, mengira itu perawat. Namun yang masuk justru Juniawan. "Pah …" Berliana sedikit terkejut. Juniawan tersenyum tipis, raut wajahnya masih menyimpan lelah. Dia mendekat, meletakkan tas kerja di kursi. "Papa cuma sebentar. Mau lihat keadaan kamu sebelum ke kantor." Berliana mengangguk. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan, tapi semuanya terasa mengendap di d**a. "Seperti yang Papa lihat, aku sudah lebih baik," katanya setelah terdiam beberapa saat. Juniawan mengangguk pelan. "Papa juga lihat itu, sepertinya kamu juga jauh lebih segar hari ini." Berliana menatap tangan ayahnya yang mulai berkeriput. Rasa ingin tahu kembali menyeruak, tapi dia memilih menahannya. "Iya. Aku tidur nyenyak kemarin malam," ucap Berl

