Di tengah kekalutan itu, tak lama Berliana seperti mendengar suara Fiona. 'Kalau kamu butuh teman cerita, jangan ragu untuk menghubungiku.' Dia terhenyak lalu mengusap kasar wajahnya, keinginan untuk menghubungi kakak Oliver itu kian besar, namun sayangnya dia tak membawa ponsel. Berliana menghela napas panjang, lalu memiringkan tubuhnya sedikit. Matanya menatap jendela besar di sudut ruangan, melihat lampu-lampu kota yang berpendar samar di balik kaca. Malam terasa begitu sunyi, tapi pikirannya justru riuh. "Kenapa sih semuanya jadi rumit gini …," gumam Berliana lirih. Rasa lelah perlahan menjalar, tapi kantuk tak kunjung datang. Kepalanya kembali berdenyut, memaksanya memejamkan mata. Baru beberapa menit terlelap, suara ketukan pelan di pintu kamar membuatnya terjaga. Berliana memb

