Pergilah, Aira! Lari!

3445 Words

Tanpa basa-basi, tanpa sapaan pelindung yang biasa ia gumamkan setiap kali pulang malam, Bastian membuka suara. "Kau hamil?" Dua kata itu meluncur. Suaranya rendah, dalam, dan luar biasa berat. Sebuah bariton yang menggetarkan lantai marmer dan meremukkan sisa-sisa keberanian di d**a Aira. Bastian mulai melangkah mendekat. Sepatu kulitnya yang basah meninggalkan jejak gelap di atas karpet Persia yang mahal. Setiap langkahnya lambat, namun terukur, seperti predator puncak yang sedang menyudutkan mangsa yang terluka di ujung tebing. Matanya yang segelap obsidian mengunci tatapan istrinya, tidak membiarkan Aira berpaling barang sedemikro-detik pun. Di atas ranjang besar itu, Aira tampak sangat kecil. Tubuhnya otomatis menyusut, merosot lebih dalam ke tumpukan bantal. Jemarinya meremas sel

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD