Hening.
Pertanyaan Elena menggantung di udara kamar mewah itu seperti kabut tebal yang menuntut jawaban. Seberapa besar keinginanmu?
Aira menunduk sejenak, menatap kedua tangannya yang saling meremas di pangkuan. Jemari yang kurus, pucat, dan dihiasi cincin pernikahan seharga sebuah pulau kecil, namun terasa begitu kosong.
Ketika ia mengangkat wajahnya kembali, Elena bisa melihat perubahan drastis di mata wanita muda itu. Keraguan yang tadi membayangi kini sirna, digantikan oleh nyala api determinasi yang menyala redup namun panas.
"Dokter," suara Aira bergetar, namun setiap suku katanya diucapkan dengan keyakinan yang mengakar kuat.
"Menjadi ibu... itu bukan sekadar keinginan bagi Ku. Itu adalah impian terbesar. Itu adalah satu-satunya hal yang membuat saya merasa utuh sebagai wanita."
Aira menarik napas panjang, matanya menerawang menembus dinding kamar, membayangkan masa depan yang tak pernah ia miliki.
"Saya tahu tubuh saya rusak. Saya tahu ginjal saya cacat. Tapi saya juga tahu, Bastian butuh penerus. Dia membangun kerajaan bisnis raksasa dari nol, bertarung dengan dunia sendirian. Kepada siapa dia akan mewariskan semua itu? Kepada orang asing?"
Aira menggeleng kuat. Senyum pahit terukir di bibirnya.
"Bastian selalu bilang dia tidak butuh anak. Dia bilang cukup kami berdua. Tapi saya tahu itu bohong, Dok. Saya sering melihatnya menatap anak-anak kecil di televisi dengan pandangan yang... merindukan. Dia hanya menekan egonya demi melindungi saya. Dia mengorbankan impiannya menjadi ayah agar saya tetap hidup."
Air mata Aira menetes satu, jatuh membasahi punggung tangannya.
"Jadi, jika Anda bertanya seberapa besar keinginan saya? Jawabannya adalah… Saya rela menukar sisa umur saya. Saya rela mati di meja operasi, asalkan saya bisa meninggalkan satu bagian dari diri saya, dan diri Bastian di dunia ini. Sebuah bukti bahwa cinta kami pernah ada."
Elena mendengarkan pengakuan itu tanpa berkedip. Di balik wajahnya yang tenang dan penuh empati, jiwanya tertawa terbahak-bahak.
‘Naif sekali’, batin Elena mencemooh. ‘Kau pikir suamimu itu malaikat pelindung yang berkorban? Dia adalah monster yang membunuh janinmu sendiri dua tahun lalu karena dia terlalu pengecut untuk kehilangan mainan kesayangannya’
Namun, di permukaan, Elena tersenyum. Senyum yang hangat, membasuh hati, dan mematikan. Ia mengulurkan tangan, menggenggam tangan Aira yang dingin.
"Itu adalah cita-cita yang mulia, Nyonya," ucap Elena lembut. "Seorang wanita yang rela berkorban demi cinta dan keturunan... itu adalah kekuatan alam yang tidak bisa dihentikan oleh medis sekalipun."
Elena meremas pelan tangan Aira, menyalurkan racun manisnya.
"Jika tekadmu sekuat itu, mungkin... hanya mungkin... tubuhmu akan mendengarkan. Medis punya batasan, tapi keajaiban sering terjadi pada mereka yang berani berharap. Simpan api itu. Jangan biarkan padam."
Aira menatap Elena dengan rasa syukur yang meluap-luap. Untuk pertama kali dalam dua tahun, ia merasa didengar. Ia merasa divalidasi.
"Terima kasih," bisik Aira.
"Istirahatlah. Saya akan kembali besok untuk memantau perkembanganmu," Elena berdiri, membereskan tasnya. "Dan ingat, pembicaraan ini adalah rahasia kita. Tuan Bastian tidak perlu tahu tentang 'harapan' kecil ini, bukan? Kita tidak ingin membuatnya khawatir sebelum waktunya."
"Tentu. Rahasia kita."
Elena berbalik dan berjalan keluar. Saat pintu tertutup di belakangnya, seringai kemenangan akhirnya terbit di wajah sang dokter. Mangsanya telah menelan umpan bulat-bulat.
**
Malam turun menyelimuti Jakarta dengan awan mendung yang menggantung rendah. Di ruang makan Penthouse Pradipta, denting garpu perak beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
Makan malam berlangsung dalam suasana yang biasa, Bastian makan dengan tenang sambil sesekali mengecek ponselnya, sementara Aira makan dalam diam, pikirannya masih melayang pada percakapannya dengan Elena tadi sore.
"Makan sayurnya, Ra. Jangan dipinggirkan," tegur Bastian tanpa menoleh dari layar ponsel.
"Iya," Aira menurut, menyuapkan brokoli rebus itu ke mulutnya.
Tiba-tiba, Rian muncul dari arah foyer. Wajah asisten pribadi itu tampak lebih tegang dari biasanya. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop cokelat tebal yang terlihat lusuh.
"Maaf mengganggu makan malam anda, Tuan," Rian berdiri kaku di ujung meja. Dia memberi hormat sekilas kepada Aira.
Bastian meletakkan serbetnya, menatap Rian dengan tatapan tajam. "Apa lagi? Jangan bilang ada dokter yang mati lagi hari ini."
"Bukan. Paket kedua. Kurir yang berbeda, metode yang sama. Tanpa pemindaian."
Rahang Bastian mengeras. Ia melirik Aira sekilas. "Selesaikan makanmu. Aku ada urusan sebentar di ruang kerja," perintah Bastian pada istrinya, lalu bangkit berdiri.
"Tapi Bas..."
"Habiskan, Aira," potong Bastian tegas, tidak menerima bantahan.
Bastian melangkah lebar menuju ruang kerjanya, diikuti Rian di belakang. Begitu pintu ruang kerja tertutup dan terkunci otomatis, topeng ketenangan Bastian runtuh.
"Buka," perintahnya kasar.
Rian merobek amplop itu. Isinya jatuh ke atas meja kerja yang mengkilap.
Bukan surat ancaman berdarah. Bukan foto mengerikan.
Hanya sebuah benda logam kecil yang berat.
Sebuah kunci.
Itu adalah kunci kuno, terbuat dari besi tempa yang sudah berkarat di beberapa bagian. Bentuk geriginya rumit, jenis kunci yang digunakan untuk brankas atau pintu besi model lama yang diproduksi sebelum era digital. Di gagang kunci itu, terukir samar sebuah angka… 104.
Bastian mengambil kunci itu. Dinginnya besi menyengat kulitnya. Ia membolak-baliknya di bawah cahaya lampu meja.
"Apa artinya ini?" gumam Bastian, matanya menyipit berbahaya. "Mereka main teka-teki denganku?"
"Kami sudah memindai kode pada kunci tersebut," lapor Rian cepat, menyodorkan tabletnya. "Jenis besi dan pola tempaan ini spesifik digunakan oleh satu manufaktur brankas di tahun 80-an. Dan nomor seri produksinya terdaftar sebagai pesanan massal untuk sebuah institusi sosial."
Rian menggeser layar tablet, menampilkan sebuah foto bangunan tua yang dindingnya ditumbuhi lumut dan ilalang liar.
"Yayasan Panti Asuhan 'Cahaya Bunda'. Lokasinya di pinggiran Bogor, dekat kaki Gunung Salak."
Bastian membeku. Nama itu.
Itu bukan panti asuhan tempat ia dibesarkan. Bastian tumbuh di Panti Kasih Bunda di Jakarta Pusat. Tapi nama 'Cahaya Bunda' terdengar familiar, seperti gema dari mimpi buruk yang terlupakan.
"Status tempat itu?" tanya Bastian.
"Sudah tutup tiga puluh tahun yang lalu, Tuan. Tepat di tahun yang sama saat Anda... ditemukan di dalam kardus."
Koneksi itu tersambung. Klik.
Pengirim paket ini tahu persis asal-usulnya. Lebih dari itu, pengirim ini mengisyaratkan bahwa asal-usul Bastian bukan dimulai dari kardus di Jakarta, melainkan dari reruntuhan di Bogor itu.
Bastian menggenggam kunci itu erat-erat hingga buku jarinya memutih. Rasa marah yang panas menjalari pembuluh darahnya. Ia benci masa lalu. Ia benci teka-teki. Dan yang paling ia benci adalah seseorang yang berani mendikte langkahnya.
"Siapkan tim," perintah Bastian. Suaranya rendah, menggeram seperti binatang buas yang dibangunkan paksa.
"Tim pengintai?"
"Bukan," Bastian menatap Rian dengan sorot mata membunuh. "Tim eksekusi. Bawa senjata lengkap. Bawa bahan peledak."
Bastian menyambar kunci mobil sport-nya dari meja.
"Kita akan mendatangi undangan tikus ini. Dan jika aku tidak menemukan jawaban yang memuaskan di sana... aku akan meratakan tempat itu dengan tanah malam ini juga."
**
Satu jam kemudian, konvoi tiga mobil SUV hitam membelah jalanan sepi menuju kaki Gunung Salak. Hujan kembali turun, menambah kesan mistis pada malam itu.
Mobil Bastian berhenti tepat di depan gerbang besi yang sudah reot dan dililit tanaman liar. Di baliknya, berdiri sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang sebagian atapnya sudah rubuh. Jendela-jendelanya gelap menganga seperti mata tengkorak.
"Yayasan Cahaya Bunda," baca Rian dari papan nama yang nyaris pudar sepenuhnya.
Bastian turun dari mobil. Ia tidak membawa payung. Hujan membasahi kemeja hitamnya, membuatnya melekat pada tubuh kekarnya. Di pinggangnya, tersembunyi sebuah pistol Beretta semi-otomatis.
Di sekelilingnya, enam orang pengawal bersenjata laras panjang menyebar, mengamankan perimeter dengan efisiensi militer.
"Dobrak," perintah Bastian dingin.
Dua pengawal menendang gerbang besi itu hingga engselnya yang berkarat patah dengan suara memekakkan telinga.
BRAK!
Bastian melangkah masuk ke halaman panti yang dipenuhi semak belukar setinggi pinggang. Ia berjalan lurus menuju pintu utama bangunan, mengabaikan aura angker yang menyelimuti tempat itu. Hantu masa lalu tidak menakutinya.
Iblis hidup jauh lebih berbahaya. Ia sampai di depan pintu kayu jati yang besar. Dengan satu tendangan kuat dari sepatu boot-nya, pintu itu terbuka paksa.
Senter-senter taktis menyala, menyapu kegelapan di dalam lobi panti asuhan. Debu beterbangan. Ada kursi roda rusak yang terbalik di sudut. Ada mainan anak-anak yang sudah hancur berserakan di lantai.
"Cari ruangan 104," perintah Bastian, mengangkat kunci karatan yang ia bawa.
Mereka menyisir lorong-lorong gelap itu. Suara langkah kaki boots mereka bergema, mengusik kesunyian yang telah berkuasa selama tiga dekade.
"Di sini, Tuan!" seru salah satu pengawal dari ujung lorong sayap kiri.
Bastian mendekat. Sebuah pintu besi yang kokoh, berbeda dengan pintu kayu lainnya, berdiri di sana. Catnya mengelupas, tapi strukturnya masih utuh. Di atasnya, terpasang plat nomor besi - 104 - RUANG ARSIP.
Bastian memberi isyarat agar pengawalnya mundur. Ia sendiri yang akan membukanya.
Ia memasukkan kunci kuno itu ke lubang kunci.
Macet. Karat membuatnya sulit diputar. Bastian mengerahkan tenaganya, memaksanya berputar dengan kasar.
Krak. Klik.
Mekanisme kunci itu terbuka.
Bastian mendorong pintu besi berat itu. Engselnya menjerit nyaring. Cahaya senter Bastian menyorot ke dalam.
Ruangan itu kecil, lembap, dan berbau kertas busuk. Rak-rak besi berjejer memenuhi dinding, namun semuanya kosong. Tidak ada dokumen. Tidak ada file.
Seseorang sudah membersihkannya.
Kecuali satu hal.
Di tengah ruangan, di atas sebuah meja besi tua berdebu, tergeletak sebuah kotak kayu jati yang terpoles bersih, sangat kontras dengan sekelilingnya yang kotor.
Bastian melangkah masuk. Ia mendekati kotak itu. Tidak dikunci.
Ia membukanya.
Isinya hanya selembar kertas foto polaroid baru, dan sebuah akta kelahiran yang tintanya masih terlihat segar.
Bastian mengambil foto itu. Itu adalah foto candid dirinya sendiri, diambil dari jarak jauh, sedang makan malam bersama Aira tadi sore.
Lalu ia mengambil akta kelahiran itu.
Matanya melebar sepersekian milimeter.
NAMA: RADEN MAS SEBASTIAN CAKRADARA.
AYAH: ARYAPUTRA CAKRADARA.
IBU: [DICORET TINTA MERAH]
Bastian meremas kertas itu. Cakradara?
Nama itu bukan nama sembarangan. Itu adalah nama dinasti konglomerat pertambangan yang menguasai separuh kekayaan sumber daya alam nusantara. Keluarga 'Old Money' yang dikenal tak tersentuh hukum, dan sangat tertutup.
Dan nama itu... tertulis di belakang namanya?
"Omong kosong," desis Bastian.
Tapi di balik penyangkalannya, logika bisnisnya bekerja cepat. Jika ini benar, maka ia bukan anak buangan biasa. Ia adalah aib yang disembunyikan. Atau ancaman yang dibuang.
Bastian membanting kotak kayu itu ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
"Bakar," perintah Bastian berbalik badan, meninggalkan ruangan itu. "Bakar tempat ini sampai jadi abu. Aku tidak mau melihat satu tiang pun berdiri saat matahari terbit."
"Baik, Tuan!"
Bastian berjalan keluar menerobos hujan, meninggalkan gedung tua yang mulai disiram bensin oleh anak buahnya. Api mulai menyala di belakang punggungnya, membesar, melahap sejarah yang mencoba mengklaim dirinya.
***
Aira duduk di meja rias, menyisir rambutnya yang panjang. Bastian tidak ada di tempat tidur saat ia bangun tadi. Pelayan bilang "Tuan pergi pagi-pagi sekali karena urusan pabrik yang terbakar". Aira cemas, tapi ia sudah terbiasa dengan kesibukan suaminya yang tak terduga.
Tok. Tok.
"Masuk," kata Aira.
Pintu terbuka. Bukan Bastian yang datang, bukan pula pelayan.
Melainkan Elena.
Dokter wanita itu berdiri di ambang pintu, mengenakan blus sutra berwarna emerald yang membuatnya terlihat segar dan dominan, kontras dengan Aira yang masih terlihat lesu.
Di tangan Elena, ia memegang sebuah nampan kecil. Di atasnya, ada gelas berisi jus hijau kental, dan sebuah botol kaca kecil berisi pil-pil putih yang familiar.
Namun kali ini, ada senyum yang berbeda di wajah Elena. Senyum seorang konspirator.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Elena, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang tegas.
Aira berbalik, tersenyum menyambut satu-satunya temannya. "Pagi, Elena. Kau datang awal sekali."
Elena berjalan mendekat, meletakkan nampan itu di meja rias, tepat di sebelah sisir Aira.
"Aku datang lebih awal karena ada hal penting yang harus kita mulai hari ini," ujar Elena, matanya berkilat di balik kacamata.
Ia mengambil botol pil "suplemen ginjal" milik Bastian itu, menggoyang-goyangkannya di depan wajah Aira.
"Kau bilang kau ingin menjadi ibu, kan?" tanya Elena pelan.
Aira mengangguk, jantungnya berdebar. Elena membuka tutup botol itu. Lalu, dengan gerakan yang disengaja dan lambat, ia menuangkan satu butir pil itu ke telapak tangannya.
"Kalau begitu," bisik Elena, mencondongkan wajahnya ke telinga Aira. "Langkah pertamamu bukan meminum ini."
Elena meremas pil itu hingga hancur menjadi bubuk putih di tangannya, lalu meniup sisa debunya ke udara, membiarkannya menghilang.
"Tapi membuangnya."
Mata Aira membelalak menatap debu obat yang beterbangan. Ini adalah pelanggaran aturan Bastian yang paling fatal. Ini adalah pemberontakan.
Dan Elena baru saja mengundang Aira untuk melakukannya.
“Tapi…”