Sama saja Bunuh diri

1540 Words
Pintu ganda kamar utama terbuka tanpa ketukan, sebuah kebiasaan yang menegaskan siapa penguasa mutlak di kediaman ini. Bastian melangkah masuk, diikuti oleh sosok wanita berjas putih yang berjalan tiga langkah di belakangnya dengan postur tegap. Di dalam kamar yang luas dan bernuansa cream-gold itu, Aira sedang duduk di window seat, menatap kosong ke arah langit sore Jakarta yang mulai memerah. Di pangkuannya terdapat sebuah buku tebal yang halamannya tidak dibalik sejak satu jam lalu. Mendengar langkah kaki suaminya, Aira menoleh cepat. Ada kilatan harapan di matanya, harapan akan interaksi, akan berita baru, atau sekadar pemandangan lain selain dinding-dinding mewah yang membisu. Sebab sejak dua tahun belakangan, sikap Bastian lebih posesif serta lebih kaku. Aira tidak tahu kenapa. "Sayang," panggil Bastian. Suaranya tidak lembut, namun tidak juga kasar. Itu adalah nada yang biasa digunakan seseorang saat memamerkan seseorang yang sangat dicintainya. "Berhenti melamun. Aku membawakan seseorang untukmu." Aira meletakkan bukunya, bangkit berdiri dengan anggun meski tubuhnya terlihat rapuh di balik gaun rumah berbahan sutra chiffon. Matanya beralih dari Bastian ke sosok wanita asing di belakangnya. Mata Aira sedikit membelalak. Bukan karena takut, melainkan karena terkejut. Selama dua tahun ini, dokter-dokter yang disewa Bastian selalu sama, pria paruh baya, berwajah kaku, berbau antiseptik yang menyengat, dan bicara seperlunya hanya dengan Bastian, mengabaikan Aira seolah ia hanyalah objek medis tak bernyawa. Ya, selain dokter Prasetyo, Bastian menyewa dokter ahli lainnya. Yang bertugas memantau kesehatan organ lainnya. Tapi kali ini berbeda. Wanita di hadapannya terlihat muda, cantik dengan cara yang cerdas, dan memancarkan aura tenang yang menular. "Perkenalkan," Bastian menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang bagi Elena. "Ini Dokter Elena. Dia yang akan menggantikan Prasetyo mulai hari ini. Dia lulusan terbaik dari Jerman, spesialis ginjal dan kesehatan wanita." Bastian menekankan kata 'kesehatan wanita' dengan tatapan penuh arti pada Elena. Elena melangkah maju, membungkuk sopan dengan gerakan yang terukur, tidak terlalu rendah hingga tampak menghamba, namun cukup hormat untuk menunjukkan posisinya. "Selamat sore, Nyonya Pradipta," sapa Elena. Suaranya terdengar seperti alunan cello, rendah, halus, dan menenangkan. "Kehormatan besar bagi saya bisa menangani kesehatan Anda." Aira tersenyum. Senyum tulus yang merekah hingga ke matanya. "Selamat sore, Dokter. Tolong, panggil saya Aira saja. 'Nyonya Pradipta' terdengar terlalu berat untuk konsultasi santai." "Sesuai keinginan Anda, Nyonya Aira," balas Elena, tetap menjaga batas formalitas namun dengan senyum yang lebih hangat. Bastian melirik jam tangannya. Ia sudah menyelesaikan tugasnya mempertemukan 'dokter’ dan ‘pasiennya’. "Aku harus kembali ke kantor. Ada urusan mendesak dengan bagian legal," ujar Bastian, mendekati Aira dan mengecup keningnya singkat. "Turuti semua perkataan Elena. Dia tahu apa yang terbaik untukmu. Jangan menyusahkannya dengan tidak patuh. Karena dia yang akan menanggung ketidakpatuhan mu." "Aku tidak pernah menyusahkan siapa pun, Bas," protes Aira pelan. "Bagus. Jawabanmu sangat memuaskan ku," Bastian menyeringai tipis, lalu menatap Elena dengan sorot mata peringatan yang tajam, Ingat kesepakatan kita. "Laporan lengkap harus ada di meja saya besok pagi." "Tentu, Tuan." Setelah punggung lebar Bastian menghilang di balik pintu dan suara langkah kakinya menjauh, atmosfer di ruangan itu berubah drastis. Ketegangan yang dibawa Bastian menguap, menyisakan keheningan yang canggung namun lebih bisa bernafas. Aira menghembuskan napas panjang yang tidak disadarinya ia tahan sejak tadi. Bahunya merosot rileks. Elena menangkap gestur kecil itu. Mata dibalik kacamata tipisnya merekam segalanya, bagaimana Aira menahan napas saat suaminya ada, bagaimana tangannya meremas gaunnya saat Bastian bicara, dan bagaimana ia tampak lega saat Bastian pergi. Burung dalam sangkar yang takut pada pemiliknya, namun terlalu cinta untuk terbang, batin Elena menganalisis. Naif. Rapuh. Mangsa yang mudah. "Silakan duduk, Dokter," Aira menunjuk sofa beludru di area duduk kamarnya. "Maaf kalau saya terlihat berantakan. Saya tidak menyangka Bastian akan membawa tamu secepat ini." "Anda terlihat sangat anggun, Nyonya," puji Elena wajar sambil meletakkan tas kerjanya. "Dan saya bukan tamu. Saya di sini untuk bekerja memastikan Anda dalam kondisi prima. Jadi, jangan sungkan." Elena mengeluarkan stetoskop dan tensimeter digital dari tasnya. Gerakannya efisien dan profesional. "Boleh saya periksa tanda vital Anda sekarang?" "Tentu." Aira menyodorkan lengan kurusnya. Kulitnya pucat dan tipis, urat-urat nadi terlihat jelas berwarna kebiruan di pergelangan tangannya. Elena melilitkan manset tensimeter dengan sentuhan yang jauh lebih lembut daripada dokter-dokter sebelumnya. "Bagaimana perasaan Anda hari ini? Secara fisik," tanya Elena sambil memperhatikan angka digital yang bergerak naik. "Biasa saja," jawab Aira. "Sedikit mudah lelah. Kadang pusing kalau bangun terlalu cepat. Dan... ya, bosan." Elena terkekeh pelan. "Bosan adalah penyakit orang kaya yang paling sulit disembuhkan, Nyonya." Aira ikut tertawa. Tawa yang renyah. "Anda benar. Bastian terlalu protektif. Dia mengurung saya seolah saya terbuat dari kaca yang akan pecah kena angin." "Dia mencintai Anda," Elena melepas manset itu. "Tekanan darah 110/70. Sangat bagus untuk pasien pasca-transplantasi. Detak jantung normal, meski sedikit cepat. Mungkin karena efek kafein atau stres?" "Saya tidak minum kopi," sanggah Aira. "Mungkin... stres. Saya kesepian." Kalimat itu meluncur begitu saja. Aira menutup mulutnya sedikit, kaget dengan kejujurannya sendiri pada orang asing. Tapi ada sesuatu pada diri Elena yang membuatnya ingin bicara. Mungkin karena Elena wanita. Mungkin karena Elena menatapnya bukan sebagai objek medis, tapi sebagai manusia. Elena menatap Aira dengan empati yang dibuat-buat dengan sempurna. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menciptakan kedekatan intim. "Saya mengerti," ujar Elena lembut. "Hidup di menara gading seperti ini memang impian banyak wanita, tapi realitanya seringkali sunyi. Tuan Bastian sibuk menaklukkan dunia untuk Anda, sampai lupa bahwa Anda butuh teman bicara, bukan hanya penjaga." Mata Aira berkaca-kaca. Kalimat itu tepat sasaran. "Benar sekali, Dok. Bastian... dia baik. Sangat baik. Tapi dia berpikir dengan melarang saya keluar, dia menyelamatkan saya. Padahal saya merasa layu di sini." "Anda tidak layu, Nyonya. Anda hanya butuh sedikit... sinar matahari," Elena tersenyum, lalu kembali ke mode dokter. "Baiklah, mari kita bicara soal rutinitas medis Anda. Tuan Bastian memberikan obat setiap pagi?" Aira mengangguk. "Ya. Vitamin ginjal. Botol kecil tanpa label." "Ah, ya. Racikan khusus," Elena berbohong dengan lancar. "Apakah Anda merasakan efek samping? Mual di pagi hari? Keram perut saat siklus bulanan?" "Tidak ada yang signifikan," jawab Aira polos. "Hanya saja... siklus haid saya sangat teratur. Terlalu teratur. Tanggal dan jamnya selalu sama setiap bulan. Apa itu normal untuk kondisi ginjal saya?" Elena menyembunyikan seringai di dalam hatinya. Tentu saja teratur, Sayang. Obat itu mematikan sistem reproduksi mu dan menggantinya dengan perdarahan buatan. "Itu tanda yang bagus," dusta Elena meyakinkan. "Artinya metabolisme tubuh Anda sudah beradaptasi dengan baik terhadap ginjal baru dan obat-obatan penunjang. Keteraturan adalah tanda kesehatan." Aira tampak lega mendengar validasi itu. Keraguan yang sempat muncul sedikit meredup karena konfirmasi dari "ahli". Inilah kekuatan otoritas jas putih. "Syukurlah. Saya sempat khawatir ada yang salah." Elena selesai membereskan alat-alatnya. Ia tidak langsung pamit. Ia justru menyandarkan punggungnya santai, menatap sekeliling kamar mewah itu. "Nyonya Aira," panggil Elena. "Ya?" "Saya melihat banyak buku di sini. Anda suka membaca?" "Sangat. Itu satu-satunya cara saya berkeliling dunia." "Anda tahu," Elena membetulkan letak kacamatanya. "Saya juga pernah menangani pasien dengan profil psikologis seperti Anda di Berlin. Istri pejabat, dikurung demi keamanan, kesepian. Tahukah Anda apa yang membuat mereka bertahan?" Aira menggeleng antusias, haus akan cerita. "Apa?" "Tujuan," jawab Elena singkat. "Mereka mencari tujuan hidup selain menjadi istri. Ada yang melukis, ada yang menulis, dan ada yang..." Elena menggantung kalimatnya sengaja. Ia menatap perut rata Aira. Tatapan itu bukan tatapan medis, melainkan tatapan sesama wanita yang sedang membicarakan kodrat alamiah. Aira mengikuti arah pandang Elena. Tangannya secara refleks menyentuh perutnya sendiri. Gerakan bawah sadar yang meneriakkan kerinduan. "Menjadi ibu," bisik Aira melengkapi kalimat Elena. Elena mengangguk pelan. "Benar. Menjadi ibu." Suasana hening sejenak. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Elena sedang mengkalibrasi serangannya. Ia perlu tahu seberapa besar 'bom' yang bisa ia ledakkan nanti. Apakah Aira hanya ingin anak sekadar untuk mainan, atau apakah keinginan itu berakar kuat di jiwanya? "Dok," suara Aira berubah lirih, penuh keraguan. "Dokter Prasetyo dan Bastian selalu bilang... mustahil bagi saya untuk hamil. Mereka bilang itu sama saja bunuh diri." Aira menatap Elena dengan mata basah, tatapan memohon yang menyayat hati. "Sebagai dokter baru... dan sebagai sesama wanita... saya ingin jawaban jujur Anda. Apakah benar-benar tidak ada harapan bagi saya?" Elena menatap wanita muda di hadapannya. Ia melihat celah menganga di pertahanan Bastian. Celah bernama 'Harapan'. Jika Elena menjawab "Tidak mungkin", Aira akan tetap patuh pada Bastian. Jika Elena menjawab "Mungkin", Aira akan memberontak. Dan tugas Elena adalah menghancurkan Bastian, bukan? Elena tersenyum misterius. Ia tidak langsung menjawab. Ia justru mengajukan pertanyaan balik yang jauh lebih berbahaya. "Sebelum saya menjawab pertanyaan medis itu secara jujur," ucap Elena pelan, mencondongkan wajahnya hingga jarak mereka begitu dekat, seolah sedang membagi rahasia negara. "Saya perlu tahu satu hal darimu. Bukan sebagai pasien kepada dokter, tapi dari hati seorang wanita kepada wanita lain." Elena menatap manik mata Aira dalam-dalam, menguncinya. "Seberapa besar keinginanmu untuk mendengar suara tangis bayimu sendiri di rumah sunyi ini?" Aira tertegun. "Maksud Dokter?" "Apakah keinginan itu hanya sekadar angan-angan selingan saat bosan..." lanjut Elena, suaranya berubah tajam dan menusuk. "...Atau apakah kau rela menukar segalanya, kenyamananmu, kemewahanmu, bahkan mungkin mempertaruhkan nyawamu sendiri, demi merasakan satu tendangan kecil di dalam rahimmu?" Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menuntut. Aira terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Pertanyaan itu membongkar kotak pandora yang selama ini ia kunci rapat-rapat di sudut hatinya karena takut pada Bastian. Elena menunggu jawaban. Ia sedang mengukur nyali calon sekutunya. Apakah wanita rapuh ini punya cukup keberanian untuk menjadi ibu, atau hanya boneka cantik yang pantas dipajang di lemari kaca?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD