Menyentuh Istriku

1208 Words
Hujan mengguyur Jakarta sore itu, mengubah langit menjadi kanvas abu-abu yang suram. Di balik jendela kaca anti-peluru Maybach hitam yang melaju membelah kemacetan jalan protokol, Bastian duduk dengan kaki menyilang. Wajahnya sedingin es, tidak mencerminkan badai yang baru saja menghantam ketenangannya. Kabar kematian Dokter Prasetyo bukanlah sekadar berita duka baginya. Itu adalah sebuah pion catur yang ditendang keluar dari papan permainan dengan cara yang kasar. "Tuan," suara Rian terdengar dari kursi depan, memecah keheningan yang hanya diisi oleh deru wiper. "Laporan forensik awal masuk. Truk kontainer itu mengalami kegagalan rem hidrolik. Sopirnya tewas di tempat karena benturan d**a. Tidak ada jejak sabotase yang terlihat mata telanjang." Bastian mendengus pelan, matanya tetap terfokus pada jalanan basah di luar. "Tentu saja tidak ada. Profesional tidak meninggalkan jejak kabel yang dipotong. Mereka membuat kekacauan terlihat seperti takdir Tuhan." Ia tahu pola ini. Paket baju bayi berdarah itu adalah salam pembuka. Kematian Prasetyo adalah peringatan pertama. Musuhnya sedang memberitahu… 'Kami bisa menyentuh orang-orang di sekitarmu. Satu per satu.' Bagi Bastian, Prasetyo hanyalah aset. Dokter itu berguna karena ia kompeten, bisa dibungkam dengan uang, dan cukup takut pada Bastian untuk tidak banyak bertanya. Kehilangan Prasetyo berarti kehilangan satu lapisan tembok pertahanan medis di sekeliling Aira. "Siapa sopir truknya?" tanya Bastian datar. "Seorang residivis kasus narkoba yang baru bebas dua bulan lalu. Rekening istrinya menerima transferan dana tunai dalam jumlah besar pagi ini. Pengirimnya anonim, menggunakan jalur enkripsi luar negeri." "Klasik," komentar Bastian bosan. "Uang darah untuk tumbal." Mobil berbelok memasuki area lobby apartemen mewah tempat Bastian tinggal. Para penjaga keamanan berseragam hitam langsung sigap membuka gerbang, memberi hormat dengan ketakutan yang nyata. "Tuan, apakah kita perlu memberitahu Nyonya soal ini? Maksudku tentang kematian dokter Prasetyo?" tanya Rian saat membukakan pintu mobil. Bastian melangkah keluar, menginjak lantai marmer lobi. Ia mengancingkan jasnya, menegakkan postur tubuhnya yang menjulang. "Tentu saja," jawab Bastian dengan seringai tipis yang tidak mencapai mata. "Berita buruk adalah alat pengendali yang paling efektif. Rasa takut akan membuatnya semakin patuh. Aira harus selalu patuh." Lift pribadi berdenting halus, pintu terbuka langsung menuju ruang tengah penthouse. Pemandangan yang menyambut Bastian sangat kontras dengan kekacauan di kepalanya. Aira sedang duduk di sofa panjang, kakinya ditekuk di bawah tubuh, sebuah buku tebal berada di pangkuannya. Musik klasik mengalun pelan dari speaker tersembunyi. Aira menoleh, wajah cantiknya menyiratkan keterkejutan. "Kau pulang cepat?" Bastian tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, melepaskan jasnya dan melemparnya sembarangan ke armchair. Ia duduk di samping Aira, langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya, menghirup aroma vanila dari leher istrinya dalam-dalam. "Ada rapat yang kubatalkan," gumam Bastian di ceruk leher Aira. "Aku ingin di rumah." Aira merasakan ketegangan di otot bahu suaminya. Tangan mungilnya terangkat, mengusap punggung Bastian ragu-ragu. "Ada masalah di kantor?" Bastian melepaskan pelukan, menatap wajah istrinya. Ia memasang ekspresi serius, sedikit muram, akting yang sempurna untuk memanipulasi situasi. "Bukan di kantor," Bastian memulainya dengan nada berat. "Ini tentang Dokter Prasetyo." Mata Aira membelalak. "Dokter Prasetyo? Kenapa? Dia sakit? Jadwal kontrolku minggu depan, kan?" "Dia tidak akan bisa memeriksamu lagi." "Maksudmu?" "Dia meninggal dunia. Dua jam yang lalu." Buku di pangkuan Aira terjatuh ke lantai. Wajahnya memucat seketika. Tangan kanannya menutup mulut, menahan pekikan kaget. Dokter Prasetyo adalah orang yang mendampinginya selama dua tahun ini. Orang yang selalu tersenyum ramah dan memberinya semangat saat hasil lab ginjalnya memburuk. "Meninggal? T-tapi... bagaimana bisa? Kemarin lusa aku baru saja meneleponnya..." suara Aira bergetar, air mata mulai menggenang. "Kecelakaan di tol," jelas Bastian, nadanya terdengar prihatin namun matanya mengawasi reaksi Aira dengan tajam. "Truk menabrak mobilnya. Hancur total. Dia tidak selamat." Tangis Aira pecah. Ia terisak pelan, bahunya berguncang. "Ya Tuhan... kasihan sekali... dia punya anak kecil. Istrinya..." Bastian membiarkan Aira menangis sejenak, lalu ia mulai menarik jaringnya. Ia menangkup wajah Aira, menghapus air matanya dengan ibu jari, memaksa Aira menatapnya. "Dengar aku, Ra," ucap Bastian tegas. "Inilah kenapa aku selalu melarangmu keluar sembarangan." Aira mengerjapkan mata, bingung dengan perubahan topik yang tiba-tiba. "Dunia di luar sana itu buas," lanjut Bastian, suaranya memberat, menanamkan doktrin ketakutan. "Dokter Prasetyo saja, orang yang hati-hati, bisa mati konyol dalam sekejap mata karena kelalaian orang lain. Jalanan itu medan perang. Mal itu sarang penyakit. Tidak ada tempat yang aman selain di sini." "Tapi Bas... itu kecelakaan..." "Kecelakaan yang bisa menimpamu kalau kau nekat perg!" potong Bastian tajam. Aira tersentak. "Bayangkan kalau itu mobilmu. Bayangkan kalau aku harus melihat tubuhmu hancur di kursi penumpang," Bastian mencengkram bahu Aira sedikit kuat, menyalurkan rasa posesifnya. "Aku bisa gila. Aku bisa menghancurkan kota ini." "Jadi mulai sekarang," Bastian memberi jeda, memastikan setiap katanya tertanam di otak Aira. "Tidak ada negosiasi. Pengamanan mu akan kulipat gandakan. Tidak ada keluar rumah tanpa aku, bahkan untuk ke taman bawah sekalipun. Kau mengerti?" Aira merasa dunianya menyempit lagi. Kematian dokternya yang tragis justru dijadikan alasan untuk menambah gembok di jerujinya. Namun, dalam kesedihannya, logika Aira tumpul. Ia hanya melihat ketakutan di mata Bastian, ketakutan kehilangan dirinya. "Aku mengerti, Bas," bisik Aira parau. "Maaf..." Bastian menariknya kembali ke pelukan, menyembunyikan senyum kemenangannya. "Bagus. Jangan menangis lagi. Nanti matamu bengkak. Aku akan mencarikan dokter baru yang jauh lebih hebat untukmu." ** Tiga hari kemudian. Pemakaman San Diego Hills terlihat kelabu di bawah gerimis yang tak kunjung henti. Deretan mobil mewah berjejer di area parkir VVIP. Para pelayat berpakaian serba hitam berdiri mengelilingi liang lahat yang masih basah, memegang payung hitam masing-masing. Bastian berdiri agak jauh dari kerumunan keluarga yang sedang meratap. Ia mengenakan kacamata hitam, meski matahari tidak menampakkan diri. Rian berdiri setia di belakangnya, memegang payung besar yang melindungi tuannya dari tetesan air langit. Wajah Bastian datar, tanpa ekspresi belasungkawa sedikit pun. Ia memperhatikan peti mati itu diturunkan perlahan ke dalam tanah. Ia tidak melihat seorang teman yang pergi. Ia melihat pesan yang telah tersampaikan. "Penggantinya sudah siap, Tuan," bisik Rian, sedikit mencondongkan tubuh ke depan. "Namanya Dokter Elena. Lulusan terbaik Universitas Heidelberg, Jerman. Spesialis Nefrologi dan Kandungan. Rekam jejaknya bersih, setidaknya di atas kertas. Dia baru kembali ke Indonesia bulan lalu. Tidak hanya dia, ada beberapa kandidat lainnya juga.” "Bagus," jawab Bastian tanpa menoleh. "Bawa mereka ke penthouse besok. Aku ingin wawancara sendiri sebelum yang terpilih menyentuh istriku." "Baik, Tuan." Bastian mengalihkan pandangannya dari liang lahat ke arah istri dan anak-anak Dokter Prasetyo yang menangis histeris. Pemandangan itu tidak menyentuh hatinya. Di dunia Bastian, yang lemah akan dimakan yang kuat. Prasetyo hanyalah korban dari perang yang bahkan tidak ia sadari. Bastian merogoh saku jasnya, menyentuh kotak rokok peraknya, namun urung mengambilnya. Ini bukan tempat merokok, bukan karena etika, tapi karena ia tidak ingin berlama-lama. "Ayo pergi," perintah Bastian. "Anda tidak ingin menyalami keluarga duka? Sebagai tanda belasungkawa.” tanya Rian sopan. Bastian berbalik, memunggungi makam yang mulai ditimbun tanah merah itu. Angin dingin menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah dan bunga kamboja. "Untuk apa? Simpati palsu tidak akan menghidupkan orang mati," ujar Bastian dingin. Ia melangkah menjauh, sepatu kulit mahalnya menginjak rumput basah tanpa suara. Sebelum masuk ke dalam mobil, Bastian berhenti sejenak, menoleh sekali lagi ke arah gundukan tanah merah di kejauhan itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang mengerikan. "Lagipula..." gumam Bastian pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada asistennya. "Setidaknya dia mati berguna. Kematiannya cukup efektif untuk membuat Aira berhenti merengek minta keluar rumah dan mengingatkanku untuk selalu waspada." "Di papan caturku, pengorbanan pion adalah hal yang wajar demi melindungi Ratu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD