Bohongi Dia, Manipulasi Dia

1356 Words
Ruang kerja pribadi di lantai dua penthouse Pradipta itu lebih mirip ruang interogasi badan intelijen daripada ruang wawancara kerja. Dinding-dindingnya dilapisi kayu eboni gelap yang menyerap cahaya, menciptakan atmosfer suram meski matahari Jakarta bersinar terik di luar sana. Bastian duduk di balik meja kerjanya yang masif, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama monoton yang mengintimidasi. Di hadapannya, seorang pria paruh baya dengan gelar spesialis ginjal senior sedang menyeka keringat dingin di pelipis dengan sapu tangan. "Jadi, Dokter Albert," suara Bastian memecah keheningan, nadanya sedingin nitrogen cair. "Anda menyarankan agar istri saya mulai mengikuti kelas yoga kehamilan? Anda pikir tubuhnya siap untuk menampung janin?" "I-itu hanya saran medis umum, Tuan," jawab dokter itu terbata-bata, nyalinya menciut di bawah tatapan tajam sang triliuner. "Melihat hasil lab terakhir Nyonya Aira yang stabil, secara teori, dengan pengawasan ketat, kehamilan mungkin…" "Keluar." Satu kata itu diucapkan dengan volume rendah, namun dampaknya seperti ledakan granat. Dokter Albert ternganga. "Maaf?" "Saya bilang keluar," Bastian berdiri, menjatuhkan berkas CV dokter malang itu ke tempat sampah. "Saya mencari dokter yang bisa menjaga istri saya tetap hidup, bukan dokter bodoh yang memberinya harapan palsu untuk bunuh diri. Ambil upah Anda dan jangan pernah muncul di hadapan saya lagi." Rian, yang berdiri di dekat pintu, segera membuka akses keluar. "Silakan, Dokter. Lewat sini." Dokter itu tergopoh-gopoh keluar, bersyukur masih memiliki kepalanya yang utuh. Bastian menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi kulit. Ini adalah kandidat kelima hari ini. Semuanya sampah. Ada yang terlalu tua dan lamban, ada yang terlalu genit dan berani menatap matanya terlalu lama, dan ada yang terlalu idealis dengan sumpah dokter mereka. Bastian tidak butuh idealisme. Ia butuh kepatuhan buta. "Siapa selanjutnya?" tanya Bastian sambil memijat pangkal hidungnya. Kepalanya berdenyut nyeri. Kematian Prasetyo meninggalkan masalah sepele yang menyita waktu. "Kandidat terakhir, Tuan," lapor Rian sambil melihat tabletnya. "Dr. Elena Wijaya. Lulusan summa c*m laude Universitas Heidelberg, Jerman. Spesialisasi ganda: Nefrologi dan Obstetri patologi. Baru kembali ke Indonesia bulan lalu setelah sepuluh tahun berpraktik di Eropa. Ini yang saya bilang tempo hari.” "Eropa?" Bastian mendengus skeptis. "Biasanya mereka arogan." "Rekam jejaknya bersih, Tuan. Dia pernah menangani kasus-kasus pasien ginjal beresiko tinggi di Berlin. Dan yang paling penting... dia belum terafiliasi dengan rumah sakit manapun di Jakarta. Dia freelance." Artinya, dia bisa dibeli sepenuhnya. "Bawa dia masuk." Pintu terbuka. Sosok yang melangkah masuk membuat Bastian sedikit menegakkan punggungnya. Bukan karena terpesona, melainkan karena wanita ini berbeda dari kandidat sebelumnya yang masuk dengan bahu merosot ketakutan. Wanita itu masuk dengan langkah tegap dan ritmis. Heels hitamnya beradu dengan lantai kayu, menghasilkan bunyi klik yang percaya diri. Ia mengenakan setelan blazer putih bersih yang membalut tubuh rampingnya dengan profesional, tanpa mengekspos kulit berlebihan. Rambut hitamnya digelung rapi ke belakang, menampilkan leher jenjang dan wajah tirus yang minim riasan namun tegas. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya, membingkai sepasang mata coklat yang tenang, terlalu tenang. Ia tidak menunduk. Ia menatap lurus ke mata Bastian. "Selamat siang, Tuan Pradipta," sapanya. Suaranya alto, jernih, dan tanpa getaran gugup. "Duduk," perintah Bastian, tidak membalas salamnya. Elena menarik kursi di hadapan Bastian, duduk dengan postur sempurna. Ia meletakkan tas kerjanya di pangkuan, lalu menunggu. Tidak ada basa-basi, tidak ada senyum penjilat. Bastian mengambil berkas CV Elena yang disodorkan Rian. Ia membolak-baliknya sekilas. "Heidelberg. Prestasi yang bagus," komentar Bastian datar. "Kenapa kembali ke Indonesia? Gaji di Jerman pasti sepuluh kali lipat lebih besar daripada standar di sini." "Uang bukan motivasi utama saya, Tuan," jawab Elena tenang. "Oh? Jadi Anda seorang filantropis? Malaikat berhati mulia yang ingin mengabdi pada negara?" sindir Bastian sinis. Ia benci orang munafik. Sudut bibir Elena terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. "Bukan. Saya kembali karena tantangan. Kasus medis di Eropa terlalu prosedural dan membosankan. Di sini, dengan uang dan kekuasaan, batasan medis bisa... sedikit dikesampingkan." Mata Bastian menyipit. Jawaban itu menarik. Jujur dan berbahaya. "Anda tahu siapa pasien yang akan Anda tangani?" "Nyonya Aira Pradipta. Tiga puluh dua tahun. Riwayat gagal ginjal kronis stadium akhir. Transplantasi dua tahun lalu. Donor kadaver. Saat ini hidup dengan satu ginjal dan rutin mengonsumsi imunosupresan," Elena menjabarkan data itu di luar kepala tanpa melihat catatan. "Dan apa penilaian Anda tentang kondisinya?" "Rapuh," jawab Elena lugas. "Seperti bom waktu. Satu infeksi kecil, satu lonjakan tekanan darah, atau... satu kehamilan yang tidak direncanakan, bisa memicu rejeksi organ akut." Bastian terdiam. Analisis itu akurat. Dan yang lebih Bastian sukai, Elena menyebutkan 'kehamilan' sebagai ancaman, bukan anugerah. Bastian membuka laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah botol kaca kecil tanpa label yang berisi pil putih. Ia meletakkannya di atas meja, menggesernya ke hadapan Elena. "Saya memberikan ini pada istri saya setiap pagi. Dokter sebelumnya, Prasetyo, meresepkannya sebagai 'suplemen penguat ginjal'. Menurut Anda, apa ini?" Ini adalah tes pamungkas. Tes loyalitas dan kompetensi. Elena mengambil botol itu. Ia tidak membukanya. Ia hanya mengamati bentuk pil itu dari balik kaca bening. Sebagai dokter ahli, ia pasti mengenali ciri fisik obat generik tertentu. Hening sejenak. Mata Elena berkilat di balik lensa kacamatanya. Ia mengenali obat itu. Misoprostol. Obat keras yang digunakan untuk menginduksi persalinan, atau dalam konteks ini, meluruhkan dinding rahim untuk mencegah implantasi janin. Dan jika diminum rutin dalam dosis kecil, itu berfungsi sebagai kontrasepsi brutal yang juga merusak siklus hormon alami. Seorang dokter yang berpegang teguh pada sumpah Hipokrates akan berteriak marah atau melaporkan Bastian atas tuduhan malpraktik dan penganiayaan istri. Namun, Elena bukan dokter biasa. Dia adalah bidak yang ditempatkan oleh tangan tak terlihat untuk menghancurkan Bastian dari dalam. Dan untuk masuk ke dalam benteng, ia harus menjadi apa yang diinginkan sang Raja. Elena meletakkan botol itu kembali ke meja dengan tenang. "Ini adalah... kebutuhan," jawab Elena diplomatis. "Melihat kondisi Nyonya Aira yang tidak memungkinkan untuk hamil, saya berasumsi ini adalah langkah preventif yang paling logis untuk menyelamatkan nyawanya. Vitamin yang sangat penting." Bastian tersenyum miring. Senyum kepuasan seorang predator yang menemukan mitra berburu. "Anda tidak bertanya tentang efek sampingnya? Atau tentang hak pasien untuk tahu apa yang dia minum?" pancing Bastian. "Pasien saya adalah Nyonya Aira, tapi klien saya adalah Anda, Tuan Pradipta," Elena menatap Bastian tajam. "Tugas dokter adalah menyembuhkan. Dan dalam kasus ini, mencegah kehamilan adalah bentuk penyembuhan terbaik untuk ginjalnya. Apa gunanya kejujuran jika itu membunuh pasien?" Bastian tertawa pelan. Tawa yang jarang terdengar. "Brilian," gumam Bastian. "Anda diterima, Dokter Elena." Bastian menyandarkan punggungnya, menautkan jari-jarinya di depan d**a. Sikap tubuhnya berubah dari mengintimidasi menjadi memerintah. "Gaji Anda tiga kali lipat dari yang Anda minta di CV. Fasilitas apartemen, mobil, sopir, semua ditanggung perusahaan. Tapi ada syarat mutlak yang harus Anda patuhi." "Saya mendengarkan," Elena mengangguk. Bastian condong ke depan, tatapannya menusuk langsung ke jiwa Elena. Aura di ruangan itu berubah menjadi sangat gelap dan menekan. "Tugasmu hanya satu, Dokter: Pastikan istriku hidup. Pastikan jantungnya tetap berdetak, ginjalnya tetap berfungsi, dan nafasnya tetap memenuhi bumi." "Aku tidak peduli caranya," desis Bastian, suaranya memberat penuh penekanan. "Bohongi dia, manipulasi dia, racuni dia jika perlu, asalkan itu membuatnya tetap hidup dan jauh dari peti mati. Aku tidak butuh moralitasmu. Aku butuh hasil." "Dan satu lagi..." Bastian menunjuk botol pil di meja. "Pastikan dia tidak pernah tahu apa isi botol ini. Jika dia sampai tahu, atau jika dia sampai hamil di bawah pengawasanmu... maka nasib Dokter Prasetyo akan terlihat seperti liburan yang menyenangkan dibandingkan dengan apa yang akan kulakukan padamu." Ancaman itu nyata. Bukan gertakan sambal. Elena tidak berkedip. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Ia telah berhasil masuk. Kunci menuju kehancuran Bastian kini ada di tangannya. "Saya mengerti, Tuan," jawab Elena dengan nada profesional yang dingin. "Nyawa Nyonya Aira adalah prioritas absolut. Saya akan menjadi dinding pemisah antara dia dan kematian... termasuk kematian akibat janinnya sendiri." "Bagus." Bastian berdiri, mengulurkan tangannya. "Selamat bergabung di neraka pribadiku, Dokter." Elena berdiri, menyambut uluran tangan Bastian. Tangan pria itu besar, hangat, dan kuat. Tangan yang bisa melindungi sekaligus meremukkan. "Terima kasih, Tuan. Kapan saya bisa bertemu pasien?" "Sekarang," Bastian melirik jam tangannya. "Dia ada di kamarnya. Sedang merajuk karena saya melarangnya keluar. Buat dia menyukaimu. Aira butuh teman, tapi teman yang bisa kukendalikan. Jadilah teman itu." "Serahkan pada saya." Elena berbalik, melangkah menuju pintu dengan senyum kemenangan yang tersembunyi. Saat pintu tertutup di belakangnya, Bastian kembali duduk, menatap botol pil di mejanya. Ia merasa menang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD