Sinar matahari pagi menembus celah jendela besar apartemen itu, tepat mengenai wajah Jasson. Ia mengerang pelan, mencoba menghalau silau yang mengganggu tidurnya. Namun, saat ia hendak menggerakkan tangannya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Tangannya masih tertanam kuat, menggenggam jemari Hanami di atas sprei.
Jasson tersentak bangun, tapi ia menahan gerakannya agar tidak mengejutkan Hanami. Ia menatap punggung Hanami yang masih terlelap, lalu beralih ke tangan mereka yang bertautan. Semalam ia benar-benar melakukan itu?
Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Jasson melepaskan genggamannya. Ia duduk di pinggir ranjang, memijat tengkuknya yang kaku karena posisi tidur yang tidak ideal. Matanya melirik tumpukan uang 40 juta di atas meja makan yang tertutup jaketnya.
"Tanggung jawab baru dimulai hari ini," batinnya.
Jasson bangkit, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia mandi secepat kilat, mengenakan kaus hitam polos kedodoran miliknya. Setelah rapi, ia mengambil ponselnya yang semalam penuh dengan panggilan tak terjawab dari Evelyn dan Kakaknya Jourell.
Melihat nama sang Kakak Jasson langsung membuka pesan yang dikirimkan, pria itu pasti sudah mendengar kabar dari Papa dan Mamanya sehingga mengajak ketemu. Jasson membalasnya bukan untuk setuju, tapi menanyakan merk s**u hamil yang bagus dan dulu diminum sewaktu Kakak iparnya hamil.
Tak membutuhkan waktu lama pesan itu mendapatkan balasan. Merk s**u yang pastinya mahal dengan berbagai varian rasa. Cokelat, vanila, kacang hijau, stroberi.
Jasson berdecak frustrasi. Kenapa beli s**u saja lebih rumit daripada menyetel mesin Ducati?
Ia melirik Hanami yang mulai bergerak sedikit di balik selimut. Tanpa pamit, Jasson menyambar kunci motor dan dompetnya. Ia harus keluar sekarang sebelum Hanami bangun dan suasana jadi semakin aneh.
Tiga puluh menit kemudian, Jasson berdiri di depan rak s**u sebuah supermarket besar. Ekspresinya sangat serius, seolah sedang meninjau laporan keuangan perusahaan Atmajaya. Ia memegang dua kotak s**u berbeda varian di tangan kanan dan kiri.
"Mas, cari s**u buat istrinya ya? Masih muda banget istrinya, Mas?" tanya seorang ibu-ibu yang sedang melintas.
Jasson menegang. "Ehem. Iya."
"Pilih yang tinggi asam folat, Mas. Yang rasa cokelat biasanya lebih nggak bikin mual," saran ibu itu ramah.
Jasson mengangguk kaku, langsung menyambar tiga kotak s**u rasa cokelat tanpa melihat harga lagi. Ia juga mengambil beberapa buah-buahan segar, roti, dan beberapa kaleng s**u beruang yang katanya bagus untuk pemulihan.
Setelahnya ia kembali ke apartemen dengan dua kantong plastik besar. Ia melihat Hanami sudah bangun, sedang duduk di tepi ranjang sambil mengikat rambutnya. Wajah wanita itu masih terlihat mengantuk, tapi matanya langsung tertuju pada kantong belanjaan yang dibawa Jasson.
"Kau... dari mana?" tanya Hanami suara seraknya khas orang bangun tidur.
Jasson menaruh belanjaannya di meja dapur dengan suara sedikit berisik. "Beli kebutuhanmu."
Ia mengeluarkan kotak s**u itu satu per satu. "Ibu-ibu di toko bilang ini yang paling bagus. Minum sekarang, aku sudah belikan roti juga."
Hanami menatap deretan kotak s**u itu dengan tatapan tak percaya. Jasson, pria yang bahkan tidak tahu harga seliter bensin, baru saja belanja kebutuhan rumah tangga sendirian.
"Aku bisa beli sendiri nanti, Jasson. Kau tidak perlu—"
"Minum saja kenapa sih? Banyak bicara sekali," potong Jasson ketus, padahal sebenarnya ia hanya ingin menutupi rasa canggungnya karena ketahuan sangat perhatian.
Jasson menyiapkan gelas, menuangkan air hangat dengan gerakan yang sedikit kaku. Ia menyodorkan gelas itu ke depan Hanami yang kini sudah duduk di meja makan kecil mereka.
"Minum. Jangan sampai anakku protes lagi karena ibunya kurang gizi," ucap Jasson sambil membuang muka, pura-pura sibuk merapikan buah-buahan ke dalam keranjang kecil.
Hanami menerima gelas itu. Hangatnya menjalar ke telapak tangannya. Ia menatap punggung Jasson yang tegap, menyadari bahwa meskipun mulut pria itu beracun, tindakannya mulai menunjukkan sisi lain yang belum pernah ia lihat.
"Terima kasih," lirih Hanami.
Jasson terdiam sejenak. Tangannya yang sedang memegang apel berhenti bergerak. Ia tidak menyahut, tapi telinganya sedikit memerah.
"Habiskan. Jam sepuluh kita harus ke kampus. Kau tidak lupa kalau kita masih punya kelas, kan?" tanya Jasson, kembali ke mode bosnya.
Hanami mengangguk pelan. Hidup mereka mungkin berantakan, tapi di balik pintu apartemen studio ini, perlahan-lahan ada sesuatu yang mulai terbangun. Entah itu komitmen, atau sekadar rasa senasib yang dipaksakan oleh semesta.
***
"Aku bisa naik ojek atau bus, Jasson. Tidak perlu diantar."
Hanami masih berusaha menolak saat Jasson sudah berdiri di depan pintu dengan kunci motor di tangan. Jasson tidak menjawab, ia justru mengambil tas kuliah Hanami dan menyampirkannya di bahunya sendiri.
"Jangan membantah. Di bus itu sesak, udaranya tidak bagus buatmu," ucap Jasson dingin.
"Jasson, di kampus ada banyak orang. Kau mau kita jadi tontonan satu universitas?" Hanami menahan lengan Jasson, matanya memancarkan kecemasan yang nyata.
Jasson hanya mendengus. "Aku akan menurunkannya di gerbang belakang. Tidak akan ada yang lihat."
Rencana tinggal rencana. Baru saja motor Ducati Jasson berhenti di area dekat lobi gedung fakultas, seorang wanita dengan rambut ash brown sebahu dan gaya fashionable sudah berdiri di sana dengan tangan bersedekap.
"Jasson Nathanael Atmajaya!"
Jasson mematikan mesin motornya. ”Sial," umpatnya dalam hati. Itu Meadow, sepupunya yang paling cerewet dan punya telinga di mana-mana.
Hanami buru-buru turun dari motor, ia mencoba menjaga jarak seolah ia hanya menumpang secara kebetulan. Namun, Meadow bukan orang bodoh. Ia langsung menghampiri mereka dengan langkah lebar.
"Kau benar-benar gila!" Meadow menunjuk Hanami dengan dagunya, matanya menatap Jasson dengan penuh kemarahan. "Apa yang sudah kau lakukan pada sahabatku?"
"Bukan urusanmu, Meadow. Minggir," balas Jasson ketus. Ia mencoba mengambil tas Hanami untuk diberikan pada pemiliknya, tapi Meadow lebih dulu menarik Hanami ke sampingnya.
"Urusanku! Dia ini sahabatku, Jasson! Tega-teganya kau merusak anak orang!" Meadow memaki Jasson habis-habisan di depan umum. Beberapa mahasiswa mulai menoleh penasaran.
"Meadow, sudah... jangan di sini," lirih Hanami malu.
"Enggak bisa, Hanami! Cowok b******k kayak dia ini harus dikasih paham!" Meadow kembali menoleh pada Jasson. "Kau apakan dia?"
Jasson rahangnya mengeras. Harga dirinya sebagai pria Atmajaya seperti dikuliti di depan Hanami.
"Aku bisa jaga dia. Jangan sok tahu."
"Jaga? Dengan balapan liar semalam? Dengan taruhan nyawa lagi!" Meadow tertawa miris.
Hanami tersentak, ia melirik Jasson. Jadi benar, uang di meja itu hasil bertaruh nyawa.
Saat perdebatan itu makin memanas, sebuah seruan manja memecah ketegangan.
"Jasson! Babe!"
Evelyn muncul dengan kacamata hitamnya, melangkah anggun dan langsung menghambur ke pelukan Jasson. Ia melingkarkan tangannya di leher Jasson, sengaja mencium pipi pria itu di depan Meadow dan Hanami.
"Kau kemana aja sih? Semalam aku tungguin di lounge tapi kamu menghilang," rengek Evelyn tanpa memedulikan situasi.
Jasson membeku. Ia ingin melepaskan pelukan Evelyn, tapi matanya justru bertabrakan dengan mata Hanami. Hanami menatapnya dengan pandangan kosong—campuran antara kecewa dan realita yang menamparnya. Bahwa sedalam apa pun Jasson menggenggam tangannya semalam, pria itu tetap milik dunia yang berbeda.
"Ayo masuk, Meadow. Kelasnya sudah mau mulai," ucap Hanami pelan, suaranya terdengar datar namun bergetar.
Evelyn masih bergelayut manja di lengan Jasson, memamerkan senyum kemenangannya pada Hanami. Namun, Meadow tidak tinggal diam. Dengan gerakan cepat, ia menyentak tangan Evelyn dari lengan sepupunya.
"Lepas! Nggak usah gatel jadi perempuan," semprot Meadow pedas. Matanya menatap Evelyn dengan kilat jijik. "Ini kampus, bukan lounge tempamu biasa mangkal. Pergi sana!"
"Apa-apaan sih kau, Meadow!" Evelyn memekik tak terima, wajahnya merah padam.
"Pergi, Eve. Sebelum aku laporin ke dekan soal kelakuan kau yang bikin rusuh di sini," ancam Meadow lagi.
Evelyn melirik Jasson, berharap pembelaan. Namun, Jasson hanya diam dengan tatapan kosong yang terus tertuju pada Hanami. Merasa kalah telak, Evelyn menghentakkan kakinya dan pergi dengan geraman kesal.
Setelah Evelyn menjauh, Meadow menarik Jasson sedikit menjauh dari kerumunan, namun tetap dalam jangkauan pandang Hanami yang mematung. Suara Meadow merendah, kali ini penuh dengan kekecewaan yang mendalam.
"Aku kecewa padamu, Kak," bisik Meadow, suaranya bergetar. "Jangan menambah kekecewaanku dengan menyakiti Hanami lebih jauh lagi. Dia bukan mainanmu yang bisa kamu tinggal setelah kamu puas."
Jasson tersentak. Panggilan Kak dari Meadow biasanya hanya keluar saat sepupunya itu benar-benar serius. Jasson menoleh pada Hanami, melihat wanita itu menunduk sambil meremas tali tasnya. Rasa bersalah menghantam dadanya lebih keras daripada angin di jalan layang semalam.
Tanpa menunggu lagi, Hanami langsung beranjak pergi masuk ke gedung fakultasnya. Langkah Hanami terhenti saat seorang dosen senior, Sensei Aris, memanggilnya dari arah ruang prodi.
"Hanami! Berhenti sebentar," panggil Sensei Aris dengan wajah sumringah.
"Iya, Sensei?"
"Kabar gembira untuk beasiswa Monbukagakusho-mu ke Kyoto University. Dokumenmu lolos seleksi cepat! Paspor sudah di tangan prodi, ini saya bawa." Beliau menunjukkan sebuah map biru. "Tinggal menunggu email resmi minggu ini untuk jadwal Medical Check-Up (MCU) di RS rekanan kedutaan."
Dunia Hanami seolah berputar. Kyoto? Kota impian tempat ia ingin mendalami sastra Jepang, kini sudah di depan mata.
"Ingat ya, cek kesehatannya menyeluruh. Tes urin, darah, semuanya. Pastikan kondisi fisikmu prima karena standar mereka sangat ketat," tambah Sensei Aris sambil menepuk bahu Hanami bangga sebelum berlalu.
Hanami mematung. Map di tangannya terasa seberat beban seluruh dunia.
Tes urin. Tes darah.
Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Di dalam rahimnya, ada nyawa yang sedang tumbuh. Nyawa yang akan terdeteksi lewat satu tetes darah atau urin dalam pemeriksaan medis itu. Dan di detik itu juga, beasiswa impiannya akan hangus.
Bagaimana bisa? Mimpi yang aku rajut di ribuan malam akan hangus karena kesalahan satu malam?
Bersambung~