Bab 8. Puing-puing Asa

1128 Words
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 saat Jasson kembali ke Apartemen. Hari ini ia baru bertemu dengan Mama dan Kakaknya, membahas beberapa hal. Pastinya mereka berdua ingin memberikan bantuan namun harga diri Jasson menolak keras itu semua. “Biar dia sadar jika tanggungjawab tidak semudah membuka celana dalam wanita.” Jasson mendesis jengkel tatkala ucapan Papanya terlintas di kepala, padahal ia pun baru sekali membuka c*****************a. Itu pun milik Hanami, eh! Mengingat wanita itu pandangan Jasson mengedar, ia tidak menemukan Hanami. Seharusnya jam segini sudah pulang kuliah 'kan? Atau belum? Jasson bertanya-tanya dalam hatinya. Tak ingin mengambil pusing Jasson segera memencet nomor Meadow untuk bertanya. Tetapi ia justru mendapatkan kabar yang mengejutkan. “Kelas udah kelar jam 4 sore tadi. Hanami juga pulang kok, aku anter tadi." “Kau antar ke mana? Dia tidak ada di rumah." Jasson mengernyit, mengecek kamar mandi berharap jika Hanami ada di sana. Tetapi nihil. “Ke Apart barulah. Bukannya Hanami emang tinggal di sana setelah rumahnya disita? Oh s**t! Kau ini sebenarnya pembawa sial baginya, Kak!" Jasson mengumpat pelan saat dicemooh sedemikian rupa oleh sepupunya, namun ia belum mengatakan apa pun dan Meadow malah menutup panggilan itu sepihak. Tetapi Meadow mengirimkan pesan yang membuat napas Jasson seperti berhenti berdetak. “Suasana hatinya lagi nggak baik kayaknya. Coba temui dia di Perpustakaan nasional. Biasanya dia ke sana." Jasson tidak butuh waktu lama. Ia bahkan tidak peduli dengan rambutnya yang masih acak-acakkan. Pikirannya hanya satu, Hanami tidak boleh sendirian. Namun, apa yang ditakutkan Jasson benar-benar terjadi. Di PerpusNas tidak ada Hanami, di rumah lama bahkan di kampus pun tidak ada. Jasson memacu motornya gila-gilaan. Pikirannya kalut. Jam di spidometernya menunjukkan pukul 23.15 dan masih belum ada hasil. Apakah ia harus meminta bantuan Kakaknya? Tidak, Papanya pasti hanya akan menertawakan kesusahannya ini. "Sialan, Hanami! Di mana kau?!" geram Jasson, suaranya parau karena angin malam. Lampu jalan yang berkedip-kedip memberikan bayangan panjang pada sosok Hanami yang terduduk bersimpuh di trotoar beton yang kasar. Map biru itu sudah tidak berbentuk, remuk dalam dekapannya yang gemetar. Jasson melompat dari motornya sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia berlari, napasnya memburu antara amarah dan rasa takut yang nyaris membuatnya gila sejak tadi tadi. "Hanami! Kau gila? Aku mencarimu ke mana-mana sampai mau mati rasanya!" Jasson berteriak, suaranya parau. Ia hendak menyambar bahu Hanami, bermaksud menariknya berdiri. Namun, Hanami mendongak. Detik itu juga, napas Jasson terhenti di tenggorokan. Wajah Hanami bukan lagi sekadar sembab. Matanya merah, kosong, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang begitu pekat hingga Jasson merasa seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Hanami bangkit dengan sisa tenaga yang ada, menghantamkan map biru itu ke d**a Jasson berulang-ulang dengan brutal. "Kenapa kau mencariku?! Kenapa tidak biarkan aku hilang saja?!" jerit Hanami. Suaranya melengking menyayat kesunyian malam. "Lihat ini! Semuanya hancur! Mati!" PLAK! Jasson terhuyung saat map itu menghantam wajahnya. Sudut kertas yang tajam menggores pipinya hingga darah segar merembes, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding tatapan Hanami. "Kenapa harus aku, Jasson?! Kenapa kau harus memilihku malam itu?!" jerit Hanami, suaranya parau, tenggorokannya pasti sakit. "Dari jutaan wanita yang memujamu, kenapa kau harus menghancurkan aku yang tidak punya apa-apa selain mimpi ini?" Jasson terdiam, membiarkan dadanya dihantam habis-habisan. Ia melihat air mata Hanami mengalir deras, membasahi wajahnya yang sudah pucat pasi. Jasson mencoba meraih tangan Hanami untuk menenangkannya, namun Hanami justru tertawa—tawa histeris yang terdengar seperti tangisan. "Kau tahu apa yang paling menyakitkan?" Hanami berbisik, wajahnya hanya senti dari wajah Jasson, matanya menatap tajam namun kosong. "Setiap kali aku bernapas, aku merasa tubuhku kotor karena ada darahmu di dalamnya. Aku ingin merobek perutku sendiri malam ini juga supaya aku tidak perlu melihat bayanganmu seumur hidupku!" Hanami tidak lagi berteriak. Suaranya pecah, parau, dan penuh dengan keputusasaan yang murni. Ia memukuli d**a Jasson, mencoba menyalurkan rasa sesak yang membakar paru-parunya, hingga akhirnya tenaganya habis. Hanami luruh, jatuh terduduk di atas aspal dingin dengan bahu yang berguncang hebat. Jasson masih diam di posisinya. Ia menatap map biru yang kini terinjak di bawah sepatunya. Keheningan yang mengikuti tangisan Hanami terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian mana pun. Perlahan, Jasson ikut merendahkan tubuhnya. Ia duduk bersimpuh di depan Hanami, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyentuh pipi Hanami, menghapus aliran air mata yang seolah tidak ada habisnya. "Hanami... lihat aku," bisik Jasson. Suaranya pecah, ada getaran hebat yang ia kunci di pangkal tenggorokannya agar air matanya sendiri tidak tumpah. "Jangan di sini. Ayo pulang... Kau bisa menghancurkanku di rumah, tapi jangan di tempat dingin begini." Hanami mendongak. Matanya yang merah menatap Jasson dengan pandangan yang sangat jauh, seolah ia sedang melihat ke masa lalu yang sudah tidak bisa dijangkau. "Jasson..." lirih Hanami. "Bisakah kita putar kembali waktunya? Hanya satu malam saja. Aku ingin kembali ke malam di mana aku tidak mengenalmu." Jasson merasa jantungnya diremas. Ia tidak bisa menjawab. Tidak ada kata-kata yang bisa mengobati lubang besar di hati Hanami. Ia hanya bisa menatap Hanami dengan mata yang mulai memanas, menahan setitik air mata agar tidak jatuh di depan wanita itu. Tanpa suara, Jasson menyusupkan lengannya ke bawah tubuh Hanami dan mengangkatnya. Ia menggendong Hanami perlahan, membawa wanita yang kini tampak seperti raga tanpa jiwa itu masuk ke dalam apartemen. Sesampainya di dalam, Jasson mendudukkan Hanami di sofa. Ia baru menyadari kaki Hanami lecet kemerahan, mungkin karena ia berjalan terlalu jauh tanpa arah tadi siang. "Aku ambilkan obat," ucap Jasson pelan. Hanami tidak menjawab, tanpa menoleh pada Jasson, ia berjalan masuk ke kamar mandi. Tak lama, suara kucuran air terdengar, disusul dengan suara isakan tangis yang tertahan di balik pintu. Hanami mencoba menyembunyikan tangisnya di bawah suara air, tapi Jasson bisa mendengarnya—setiap sesenggukan itu terdengar seperti belati yang menyayat harga dirinya. Jasson terduduk di kursi meja makan, menumpu kepalanya dengan kedua tangan. Ia merasa gagal. Sangat gagal. Setengah jam kemudian, Hanami keluar dengan jubah mandi, wajahnya pucat dan matanya bengkak. Ia tidak melirik Jasson sedikit pun. Ia langsung merebahkan diri di atas ranjang, membelakangi ruangan, dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Sunyi. Hanami mendadak menjadi sangat pendiam, sebuah keheningan yang jauh lebih menakutkan daripada amarahnya tadi. Jasson menghela napas berat. Ia melangkah ke balkon, menutup pintu kaca rapat-rapat agar suaranya tidak terdengar ke dalam. Ia mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Jourell. "Kak..." Suara Jasson parau, hampir hilang. "Bisa ketemu? Sekarang. Aku... aku butuh bantuanmu." Di seberang sana, Jourell terdengar cemas, namun Jasson tidak bisa menjelaskan lebih banyak. Ia hanya ingin bertemu, ingin mencari celah untuk memperbaiki hidup Hanami yang telah ia porak-porandakan. Jasson tidak tahu, di balik selimut yang tebal itu, cahaya ponsel menyala redup. Hanami sedang menatap layar dengan pandangan dingin. Isakannya sudah berhenti, digantikan oleh tekad yang gelap. Di layar ponselnya, terpampang sebuah alamat di kawasan Jakarta Pusat—sebuah bangunan tanpa papan nama yang menjanjikan solusi cepat. "Besok jam 9 pagi." Hanami membatin. Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD