Pukul 21.45. Winona baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya yang basah dibalut handuk putih, dan ia sudah mengenakan piyama satin yang nyaman. Harusnya, ini adalah waktu di mana ia tenggelam dalam keheningan apartemennya setelah seharian berurusan dengan angka-angka di bank. Namun, ponselnya bergetar tidak keruan. Nama Wilder muncul di layar berkali-kali. Winona hanya meliriknya malas, lalu melempar benda itu ke atas ranjang. Ia sedang tidak punya energi untuk meladeni kegilaan Wilder. Ting! Sebuah pesan masuk. Wilder : Buka pintu atau aku teriak kebakaran di koridor apartemenmu sekarang juga. Mata Winona membelalak. Sedetik kemudian, suara bel pintu berbunyi berkali-kali, diikuti gedoran yang tidak tahu aturan. "Dia benar-benar pria gila!" gerutu Winona sambil menyambar bathro

