Lobi kantor polisi itu masih terasa pengap oleh aroma kopi instan yang dingin dan tinta stempel, namun bagi Jasson, dunia seolah telah menciut hingga hanya menyisakan ruang seluas dekapan Hanami. Jasson menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya. Ia merasa terlalu kotor untuk dipeluk seperti ini, kemejanya berbau peluh, debu sel, dan noda besi yang mengering. Perlahan, Jasson mencoba mengurai pelukan itu, menggeser bahu Hanami agar ia bisa melihat wajah wanitanya. Namun, alih-alih merenggang, Hanami justru semakin menenggelamkan wajahnya di d**a Jasson. Tangannya mencengkeram kain kemeja Jasson begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Isak tangisnya justru pecah lebih hebat, sebuah suara parau yang penuh dengan ketakutan dan rasa lega yang meluap. "H

