Suara napas Axe yang teratur di pelukan Jasson adalah satu-satunya hal yang menahan pria itu agar tidak runtuh sepenuhnya di lantai yang dingin. Punggungnya bersandar pada dinding, sementara kepalanya mendongak, mencoba menelan kembali sisa-sisa air mata yang merembes keluar. “Jasson?” Suara lembut itu membuat Jasson tersentak. Mama Serena berdiri di ujung koridor. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi guratan kecemasan. Jasson buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia memaksakan sebuah senyum paling menyakitkan yang pernah Serena lihat. “Jasson, kau menangis? Apa yang terjadi? Di mana Hanami?” Serena melangkah mendekat, tangannya gemetar ingin menyentuh putranya. “Ma…” Suara Jasson pecah, namun ia segera berdeham kuat. “Jangan benci Hanami ya, Ma. Tolong, jang

