Bab 72. Tangisan Pertama

1780 Words

Lampu ruang bersalin itu berpijar putih pucat, memantul di dinding keramik yang dingin. Tidak ada raungan mesin atau sorak sorai penonton seperti di sirkuit. Hanya ada suara bip teratur dari monitor jantung dan gesekan halus kain sprei setiap kali Hanami bergerak gelisah. Jasson berdiri di sisi kepala tempat tidur. Tubuhnya yang tinggi tampak kaku, bahunya menegang hingga urat lehernya menonjol. Ia tidak berani menatap ke arah bawah, ia tidak sanggup melihat apa yang sedang dialami Hanami. Pandangannya terpaku lurus ke dinding kosong di depannya, seolah-olah jika ia melihat sedikit saja, pertahanannya akan runtuh. "Ssshh... tarik napas, Hanami. Pelan-pelan," bisik Jasson. Suaranya serak, bergetar dengan cara yang belum pernah didengar siapa pun sebelumnya. Hanami tidak berteriak histe

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD