Bunyi BRAK! itu menggema di antara rak-rak buku yang tinggi, membuat beberapa pengunjung toko menoleh dengan wajah pucat. Jasson sudah berada tepat di depan wajah Wilder. Matanya yang tajam mengunci mata Wilder, sementara tangan kanannya mengepal hingga urat-urat di lengannya menonjol, siap untuk melayangkan hantaman yang mungkin akan mematahkan rahang aristokrat itu. Wilder? Pria itu benar-benar menyebalkan. Bukannya mundur, ia justru tetap berdiri tenang dengan tangan di saku, senyum tipisnya masih bertengger di sana, seolah ia sedang menonton pertunjukan komedi yang menghibur. "Kenapa, Jasson? Kebenaran memang selalu menyakitkan, ya?" bisik Wilder tepat di depan wajah Jasson. Jasson sudah akan meledak, namun sebuah tarikan kuat di jaket-nya membuat tubuhnya tertahan. Hanami menarik k

