Hari-hari berlalu. Vika menjalani hari-harinya tanpa adanya keluhan. Urusan pekerjaan, sesekali pastinya ada kendala dan Alvaro tak pernah yang benar-benar memarahinya. Vika pernah melihat lelaki itu marah saat meeting atau pada karyawan lainnya, tetapi tak pernah marah padanya urusan pekerjaan. Alvaro selalu memaklumi kesalahannya, menegur sewajarnya saja. Alvaro juga push Vika untuk terus mempelajari hal-hal baru, yang menurut Vika itu bagus untuk dirinya sendiri. Itu untuk kerjaan. Lalu, bagaimana dengan kehidupan pribadinya Vika? Keluarga? Percintaan yang bertepuk sebelah tangan? Masalah keluarga Vika selalu saja ada. Ayahnya Vika sebulanan ini semakin jarang bekerja dan mulai sering sakit. Tentunya kebutuhan rumah sepenuhnya diambil alih oleh Vika, termasuk untuk biaya sekolah adi

